Kunci Cerdas Mengelola Gaji
Mengelola keuangan rumah tangga sering kali terasa berat karena banyaknya godaan belanja di era digital saat ini. Banyak orang merasa penghasilan mereka selalu kurang meskipun jumlah gaji terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Hal tersebut biasanya terjadi karena seseorang lebih mendahulukan keinginan daripada memenuhi kebutuhan pokok yang jauh lebih penting.
Memahami Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan
Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki skala prioritas yang jelas dalam menggunakan harta agar tidak jatuh pada kesia-siaan. Kebutuhan merupakan segala sesuatu yang harus ada demi kelangsungan hidup dan tegaknya ibadah seseorang kepada Allah ﷻ. Sebaliknya, keinginan sering kali hanyalah dorongan hawa nafsu untuk memiliki barang tambahan demi kesenangan atau gengsi semata.
Allah ﷻ memberikan tuntunan agar kita bersikap proporsional dalam membelanjakan harta tanpa melampaui batas.
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya adalah pertengahan. (QS. Al-Furqan: 67)
Melalui ayat tersebut, kita belajar untuk selalu mengambil jalan tengah dalam urusan konsumsi keluarga. Maka dari itu, sebelum melakukan transaksi, tanyakanlah pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar Anda butuhkan saat ini.
Bahaya Menuruti Selera Nafsu dalam Berbelanja
Selanjutnya, kebiasaan memperturutkan semua keinginan tanpa kendali dapat merusak kestabilan ekonomi dan ketenangan batin. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa rasa puas tidak akan pernah tercapai jika manusia hanya fokus mengejar kesenangan duniawi saja. Keinginan manusia yang tidak terbatas sering kali menjadi pintu gerbang menuju perilaku boros yang merugikan.
Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا وَلَا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ
Seandainya anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian). (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, kita harus mampu mengendalikan diri agar tidak terjebak dalam budaya konsumerisme yang berlebihan. Mengikuti tren tanpa pertimbangan matang hanya akan menghabiskan rezeki yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal bermanfaat lainnya.
Tips Bijak dalam Memilih Prioritas Belanja
Lalu, bagaimana cara praktis agar kita tetap disiplin dalam membagi anggaran antara kebutuhan harian dan tabungan? Salah satu langkah terbaik adalah dengan menunda pembelian barang yang bersifat keinginan selama beberapa hari untuk menjernihkan pikiran. Sering kali, rasa ingin membeli sesuatu akan hilang dengan sendirinya setelah kita merenungkan urgensi dari barang tersebut.
Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما menceritakan sebuah atsar dari Umar bin Khattab رضي الله عنه saat melihat anaknya membawa daging. Umar bin Khattab رضي الله عنه kemudian berkata:
أَوَكُلَّمَا اشْتَهَيْتَ اشْتَرَيْتَ
Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, maka engkau harus membelinya? (Atsar riwayat Ahmad dalam Az-Zuhd dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, sanadnya shahih)
Pernyataan tegas tersebut merupakan pelajaran berharga bagi setiap muslim agar memiliki daya tahan terhadap godaan belanja. Akhirnya, dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, keluarga Anda akan memiliki ketahanan finansial yang jauh lebih kuat.
Kesimpulan
Jadi, mulailah mengutamakan kebutuhan pokok seperti pangan, tempat tinggal, dan pendidikan daripada sekadar gaya hidup mewah. Kedisiplinan dalam memilih prioritas akan membawa keberkahan dan rasa cukup di dalam rumah tangga Anda. Mari kita kelola rezeki dari Allah ﷻ dengan penuh rasa tanggung jawab demi kemaslahatan di dunia dan akhirat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


