Menjaga Syahwat Muda

Perisai Iman di Era Fitnah

Masa muda merupakan fase saat gejolak keinginan dan kekuatan fisik mencapai puncaknya. Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi seorang pemuda muslim adalah mengendalikan syahwat agar tidak menjerumuskannya ke dalam dosa. Namun, Islam tidak mematikan keinginan tersebut, melainkan memberikan arahan agar pemuda mampu menyalurkannya dengan cara yang Allah ﷻ ridhai.

Pentingnya Menundukkan Pandangan

Langkah awal untuk menjaga syahwat bermula dari apa yang mata kita lihat setiap hari. Di era digital ini, berbagai godaan visual sangat mudah menghampiri layar gawai kita kapan saja. Maka dari itu, Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan sebagai bentuk pensucian jiwa. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nur: 30).

Jadi, dengan menjaga mata, kita sebenarnya sedang menutup pintu utama masuknya syahwat ke dalam hati. Selain itu, kebiasaan ini akan membuat hati lebih tenang dan lebih mudah untuk fokus dalam menuntut ilmu syar’i.

Puasa sebagai Benteng Pemuda

Selanjutnya, bagi pemuda yang belum mampu menempuh jenjang pernikahan, Rasulullah ﷺ memberikan solusi praktis yang sangat efektif. Solusi tersebut adalah dengan merutinkan ibadah puasa sunnah. Rasulullah ﷺ memberikan arahan melalui hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjadi sarana melatih kendali diri. Dengan berpuasa, maka dorongan syahwat akan melemah sehingga pemuda bisa lebih terjaga dari perbuatan maksiat.

Mengisi Waktu dengan Hal Bermanfaat

Terakhir, syahwat seringkali muncul saat seseorang sedang melamun atau tidak memiliki kesibukan yang positif. Maka, pemuda harus mengisi setiap detiknya dengan kegiatan yang bermanfaat bagi dunia maupun akhiratnya. Selain mengikuti kajian rutin di Pesantren MAQI, pemuda juga bisa menyibukkan diri dengan membantu sesama melalui program MAQI Peduli.

Sebab, lingkungan yang sholeh akan sangat membantu kita dalam mempertahankan istiqomah. Mari kita mohon pertolongan Allah ﷻ agar selalu terjaga dari fitnah syahwat yang merusak. Dengan memegang teguh prinsip Salafus Sholeh, insya Allah masa muda kita akan menjadi ladang pahala yang melimpah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan