Tadabbur Bukan Sekadar Khatam

Bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa karena Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini. Oleh karena itu, umat Islam berlomba-lomba untuk menyelesaikan bacaan atau mengkhatamkan kitab suci ini sebanyak mungkin. Namun, kita perlu merenungkan kembali apakah interaksi kita dengan wahyu Ilahi sudah mencapai tujuan yang sebenarnya.

Tujuan Utama Penurunan Al-Qur’an

Meskipun membaca Al-Qur’an memberikan pahala yang besar pada setiap hurufnya, Allah ﷻ menetapkan tujuan yang lebih dalam. Allah ﷻ menurunkan ayat-ayat-Nya agar manusia merenungkan maknanya dan mengambil pelajaran hidup. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (Shad: 29).

Tadabbur berarti kita berusaha memahami pesan di balik setiap rangkaian kata untuk memperbaiki kualitas iman. Tanpa adanya tadabbur, seseorang mungkin saja selesai membaca seluruh isi mushaf tetapi tidak mendapatkan bekas dalam perilakunya. Selanjutnya, hati yang tertutup seringkali menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk bisa memahami keagungan pesan Allah ﷻ.

Meneladani Interaksi Nabi dengan Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ seringkali menghabiskan malam dengan merenungkan hanya satu ayat saja yang sangat menyentuh hati beliau. Beliau ﷺ tidak terburu-buru dalam membaca, melainkan memberikan hak pada setiap huruf dan maknanya. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه, beliau menceritakan cara membaca Nabi ﷺ:

إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

Apabila beliau ﷺ melewati ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Apabila melewati ayat yang mengandung permintaan, beliau meminta. Dan apabila melewati ayat yang mengandung permohonan perlindungan, beliau memohon perlindungan (Hadits Riwayat Muslim nomor 772).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat melibatkan perasaan dan kehadiran hati saat membaca. Maka, kualitas bacaan yang penuh perenungan jauh lebih utama daripada kuantitas yang terbaca secara tergesa-gesa. Selain itu, para sahabat رضي الله عنهما juga tidak berpindah ke ayat lain sebelum mereka memahami dan mengamalkan ayat sebelumnya.

Bahaya Membaca Tanpa Memahami

Umat Islam harus waspada agar tidak menjadi golongan yang hanya fasih lisan namun kosong dari pemahaman. Al-Qur’an harus masuk ke dalam hati dan menggerakkan anggota tubuh untuk taat kepada syariat. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak memberikan manfaat bagi jiwa mereka. Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ

Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaan tersebut tidak melewati kerongkongan mereka (Hadits Riwayat Bukhari nomor 3610 dan Muslim nomor 1064).

Maksud dari hadits ini adalah peringatan bagi orang yang hanya berhenti pada bacaan lahiriah saja tanpa meresapi maknanya ke dalam kalbu. Akhirnya, ilmu yang mereka dapatkan tidak membuahkan rasa takut kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu, kita harus menyeimbangkan antara target khatam dengan porsi waktu khusus untuk mempelajari tafsirnya.

Cara Praktis Melakukan Tadabbur

Agar interaksi kita dengan Al-Qur’an di sisa Ramadhan ini lebih bermakna, kita bisa mencoba beberapa langkah berikut:

  1. Bacalah Secara Perlahan: Hindari mengejar target jumlah halaman dengan cara yang sangat cepat dan tidak tartil.

  2. Gunakan Terjemahan: Sediakan mushaf terjemahan atau kitab tafsir ringkas di samping kita saat sedang tilawah.

  3. Ulangi Ayat: Jika menemukan ayat yang menyentuh hati, ulangi berkali-kali sampai maknanya meresap kuat ke dalam jiwa.

  4. Amalkan Segera: Jadikan setiap perintah dalam ayat sebagai panduan perilaku kita sepanjang hari tersebut.

Dengan melakukan langkah-langkah ini, Al-Qur’an akan benar-benar menjadi obat dan petunjuk bagi kehidupan kita. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita sebagai Ahlul Qur’an yang senantiasa membaca, memahami, serta mengamalkan isinya dengan penuh keikhlasan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan