Agama Islam tegak di atas pondasi nasihat yang tulus demi kebaikan dunia dan akhirat. Tanpa adanya budaya saling mengingatkan, masyarakat akan mudah terperosok ke dalam kelalaian serta kemaksiatan. Oleh karena itu, memberikan nasihat merupakan tanda cinta seorang Muslim kepada saudaranya. Namun, penyampaian nasihat harus berlandaskan hikmah agar pesan kebenaran tersebut dapat diterima dengan lapang dada tanpa melukai perasaan.
Nasihat sebagai Esensi Beragama
Islam memandang nasihat sebagai kewajiban sosial yang sangat mendasar bagi setiap individu mukmin. Selanjutnya, tindakan mengingatkan ini bertujuan untuk menjaga agar setiap orang tetap berada di jalan yang diridhai Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan bahwa agama itu sendiri adalah nasihat, yang mencakup hubungan kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslimin.
Sahabat Tamim Ad-Dari رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
Agama itu adalah nasihat. (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh ketika melihat kekeliruan di lingkungan sekitar kita.
Cara Memberi Nasihat yang Beradab
Penyampaian nasihat memerlukan seni serta kelembutan hati agar tidak terkesan menghakimi atau mempermalukan orang lain. Islam memerintahkan kita untuk mengajak manusia ke jalan kebenaran dengan cara yang bijaksana dan tutur kata yang baik. Kemudian, memberikan nasihat secara rahasia (empat mata) jauh lebih utama daripada menyampaikannya di depan orang banyak.
Allah ﷻ memberikan panduan berdakwah dan menasihati dalam Al-Qur’an:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl: 125).
Selain itu, kesabaran dalam menghadapi reaksi orang yang dinasihati menjadi kunci keberhasilan dalam berdakwah.
Keutamaan Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan
Seorang Muslim yang bersedia meluangkan waktu untuk menasihati saudaranya akan mendapatkan pahala yang terus mengalir. Selanjutnya, Allah ﷻ menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang menjadi perantara turunnya hidayah bagi orang lain. Dengan saling menasihati, ukhuwah Islamiyah akan semakin kokoh karena didasari oleh keinginan untuk masuk surga bersama-sama.
Diriwayatkan dari sahabat Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu jauh lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta paling berharga). (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai penutup, marilah kita budayakan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran dengan cara yang santun. Kemudian, jadikanlah setiap saran sebagai sarana untuk memperbaiki diri kita masing-masing. Akhirnya, kehidupan bermasyarakat akan terasa jauh lebih harmonis saat setiap orang saling peduli terhadap keselamatan saudaranya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


