Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat memberikan tantangan sekaligus peluang besar bagi para pemuda muslim saat ini. Sejatinya, teknologi hanyalah sebuah alat yang sifatnya netral, namun manfaat atau mudaratnya sangat bergantung pada siapa yang memegangnya. Oleh karena itu, pemuda Qur’ani harus memiliki kecerdasan dalam memanfaatkan teknologi agar perangkat tersebut menjadi saksi kebaikan di akhirat kelak.
Teknologi sebagai Sarana Dakwah dan Ilmu
Seorang pemuda yang bijak akan menjadikan gawai dan media sosialnya sebagai wasilah untuk menyebarkan cahaya kebenaran. Al-Qur’an mengingatkan kita agar selalu menggunakan lisan maupun tulisan untuk mengajak manusia menuju jalan Tuhan dengan penuh hikmah. Allah ﷻ berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS. An-Nahl: 125).
Jadi, pemuda bisa memanfaatkan kemudahan akses internet untuk menuntut ilmu syar’i melalui kajian-kajian yang berlandaskan manhaj Salafus Sholeh. Selain itu, menyebarkan kutipan ayat atau hadits yang shahih di dunia maya termasuk dalam kategori amal jariyah. Maka dari itu, janganlah kita biarkan teknologi hanya habis untuk hiburan yang tidak memberikan nilai manfaat bagi agama kita.
Waspada terhadap Fitnah Dunia Maya
Selanjutnya, kita harus tetap waspada karena teknologi juga menyimpan berbagai lubang fitnah yang bisa merusak aqidah dan akhlak. Seorang muslim yang bertaqwa tentu akan merasa selalu diawasi oleh Allah ﷻ dalam setiap aktivitas digitalnya, termasuk saat sendirian. Rasulullah ﷺ memberikan wasiat berharga melalui hadits dari sahabat Abu Dzarr رضي الله عنه:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami’ no. 97).
Oleh sebab itu, ketaqwaan digital berarti kita menjauhi konten-konten yang Allah ﷻ haramkan serta tidak menyebarkan berita bohong (hoax). Tentunya, menjaga jari dan mata dari hal-hal yang tidak halal merupakan jihad tersendiri bagi pemuda di era modern ini. Dengan pengendalian diri yang kuat, maka teknologi akan menjadi pelayan bagi iman kita, bukan justru menjadi tuan yang menjajah hati.
Kontribusi Nyata Melalui Inovasi Digital
Terakhir, pemuda muslim sebaiknya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan juga harus menjadi pengembang yang membawa manfaat bagi umat. Kita bisa mendukung berbagai program kemanusiaan melalui platform digital seperti yang dikelola oleh MAQI Peduli. Selain itu, belajar di Pesantren MAQI akan membantu kita tetap memiliki pondasi agama yang kuat di tengah gempuran arus informasi.
Sebab, ketika kecerdasan teknologi bertemu dengan kesholehan hati, maka akan lahir inovasi-inovasi yang sangat membantu dakwah Islam. Mari kita gunakan waktu muda ini untuk menguasai teknologi demi kemuliaan agama Allah ﷻ. Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing para pemuda kita agar selalu istiqomah dalam menggunakan teknologi di atas jalan kebenaran.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


