Menghidupkan Muraqabah dan Menepis Riya
Dunia digital saat ini menawarkan panggung yang sangat luas bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri. Melalui layar gawai, kita bisa dengan mudah berinteraksi, berbagi cerita, hingga menampilkan berbagai aktivitas harian. Namun, kebebasan tanpa batas di media sosial seringkali membuat kita lupa akan batasan syariat. Banyak orang terjebak dalam pembuktian kesalehan hanya demi meraih kekaguman dari para pengikut. Oleh karena itu, kita memerlukan konsep muraqabah atau merasa selalu diawasi oleh Allah ﷻ saat berselancar di internet.
Hakikat Muraqabah di Tengah Gempuran Notifikasi
Muraqabah adalah keyakinan batin yang mendalam bahwa Allah ﷻ senantiasa melihat, mendengar, dan mengetahui segala perbuatan kita. Sikap spiritual ini seharusnya menjadi tameng utama bagi seorang muslim ketika berada di ruang digital. Keberadaan ruang siber yang tampak semu seringkali mengikis rasa malu manusia sehingga mereka berani memamerkan amalannya. Padahal, setiap ketukan jemari dan unggahan konten tidak pernah luput dari pengawasan malaikat.
Allah ﷻ menegaskan pengawasan-Nya yang menyeluruh melalui ayat Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa: 1)
Melalui kesadaran ayat ini, pemuda muslim akan lebih berhati-hati sebelum menyebarkan aktivitas ibadahnya. Ia memahami bahwa pandangan Allah ﷻ jauh lebih penting daripada jumlah penayangan atau tanda suka. Dengan demikian, jiwa yang rida terhadap pengawasan-Nya akan terhindar dari ketergantungan pada pujian manusia.
Bahaya Kehilangan Ikhlas Akibat Haus Validasi
Media sosial secara tidak sadar sering mendorong penggunanya untuk mencari pengakuan secara instan. Sikap haus validasi inilah yang kemudian membuka pintu riya secara lebar dalam hati seorang hamba. Akibatnya, ibadah mulia seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, atau shalat malam bergeser menjadi komoditas konten. Kondisi tersebut tentu sangat berbahaya karena riya bisa menghapus seluruh pahala yang telah kita kumpulkan dengan susah payah.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras mengenai fenomena orang yang beribadah demi popularitas dan pujian.
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku adalah Yang Paling Tidak Membutuhkan sekutu dari orang-orang yang berbuat syirik. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang dia menyekutukan selain-Ku bersama-Ku di dalamnya, maka Aku akan meninggalkannya dan menyekutukannya. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kita harus menata ulang niat utama dalam menggunakan platform jejaring sosial. Jangan sampai aktivitas digital kita justru menjadi bumerang yang menyeret kita ke dalam murka Allah ﷻ. Sembunyikanlah sebagian besar amal kebaikan kita sebagaimana kita menyembunyikan aib-aib pribadi kita dari pandangan orang lain.
Menjaga Jari dan Hati dari Penyakit Pamer
Melatih diri untuk ikhlas di era modern memang membutuhkan perjuangan batin yang luar biasa keras. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan membuat batasan yang tegas bagi diri sendiri sebelum mengunggah sesuatu. Tanyakan pada diri sendiri apakah konten ibadah tersebut membawa manfaat bagi orang lain atau sekadar memuaskan ego pribadi. Jika unggahan itu hanya memicu penyakit riya, maka menyimpannya di galeri pribadi adalah pilihan terbaik.
Selanjutnya, kita juga harus mengingat bahwa seluruh anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian di akhirat kelak. Layar gawai dan akun media sosial kita akan berbicara jujur mengenai motivasi asli kita selama di dunia.
Allah ﷻ berfirman mengenai kesaksian anggota badan manusia:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin: 65)
Jadi, marilah kita bangun kesadaran spiritual yang tinggi setiap kali kita membuka aplikasi di ponsel. Gunakan internet sebagai sarana untuk mendulang pahala jariyah dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Bersamaan dengan itu, jagalah kesucian hati dari keinginan untuk dipuji agar ibadah kita tetap bernilai di sisi-Nya.
Kesimpulan
Singkatnya, merasa diawasi di ruang digital adalah kunci utama untuk menyelamatkan keimanan kita di zaman modern. Sikap muraqabah akan menuntun kita menjadi pengguna media sosial yang bijak, cerdas, dan penuh ketulusan. Oleh sebab itu, mari kita bersihkan diri dari riya demi meraih rida Allah ﷻ yang abadi.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


