Mengelola Bonus Rezeki agar Tetap Berkah

Sering kali kita merasa sangat bahagia ketika mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji rutin, seperti bonus kerja atau hadiah tidak terduga. Namun, banyak orang justru cenderung menjadi konsumtif saat memegang uang lebih sehingga rezeki tersebut menguap begitu saja tanpa bekas. Padahal, setiap tambahan nikmat yang Allah ﷻ berikan menuntut pengelolaan yang bijak agar tidak menjadi kesia-siaan.

Mensyukuri Tambahan Karunia Allah ﷻ

Langkah pertama yang harus Anda lakukan saat menerima bonus adalah mengucapkan syukur kepada Sang Pemberi Rezeki. Kesadaran bahwa harta tersebut merupakan murni karunia Allah ﷻ akan menjaga hati dari sifat sombong atau perasaan bahwa itu semata-mata hasil kerja keras sendiri. Allah ﷻ menjanjikan tambahan nikmat bagi siapa saja yang mau bersyukur dengan tulus.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (QS. Ibrahim: 7)

Oleh karena itu, gunakanlah sebagian rezeki tambahan tersebut untuk meningkatkan kualitas ibadah Anda. Maka, rasa syukur tersebut akan menarik lebih banyak keberkahan ke dalam rumah tangga.

Mendahulukan Hak Sesama dan Hutang

Selanjutnya, janganlah Anda terburu-buru menghabiskan bonus untuk barang-barang keinginan sebelum menunaikan hak-hak yang wajib. Jika Anda memiliki tanggungan hutang, maka momen mendapatkan bonus adalah waktu terbaik untuk mempercepat pelunasannya. Islam sangat menekankan pentingnya membersihkan diri dari tanggungan harta orang lain sesegera mungkin.

Rasulullah ﷺ memberikan pujian kepada orang yang segera menyelesaikan kewajibannya saat memiliki kemampuan finansial. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam menunaikan hutangnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, pertimbangkanlah untuk memberikan sedekah ekstra sebagai bentuk syukur atas bonus tersebut. Harta yang Anda keluarkan di jalan Allah ﷻ sejatinya adalah simpanan yang akan menjaga Anda dari berbagai kesulitan. Akhirnya, rezeki tambahan tersebut tidak hanya lewat di dunia, tetapi juga membekas sebagai pahala di akhirat.

Mengalokasikan untuk Investasi Masa Depan

Setelah urusan wajib selesai, Anda bisa mengalokasikan sisa bonus untuk memperkuat dana cadangan atau investasi syariah. Kebijaksanaan dalam menyimpan harta akan melindungi keluarga dari risiko kekurangan di masa yang akan datang. Rasulullah ﷺ memberikan arahan agar umatnya tidak membiarkan diri mereka berada dalam kondisi meminta-minta kepada orang lain.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

لأن يَحتَطِبَ أحَدُكم حُزمَةً على ظَهرِهِ خَيرٌ له مِن أن يَسأَلَ أَحَدًا فيُعطِيَهُ أو يَمنَعَهُ

Sungguh, jika salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar lalu memanggul ikatannya di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, manfaatkanlah setiap bonus rezeki sebagai sarana untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. Dengan manajemen yang rapi, Anda akan merasakan bahwa rezeki tidak terduga tersebut benar-benar membawa manfaat yang luas.

Kesimpulan

Maka, kelolalah setiap tambahan pendapatan dengan penuh tanggung jawab dan tetap berpijak pada nilai-nilai syariat. Hindarilah godaan belanja spontan yang hanya memuaskan nafsu sesaat namun merugikan stabilitas keuangan jangka panjang. Mari kita jadikan setiap keping rupiah yang Allah ﷻ berikan sebagai jalan untuk meraih keridaan-Nya dan kebahagiaan keluarga.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan