Menemukan Tujuan Hidup yang Syar’i

Banyak orang sibuk bekerja, belajar, dan mengejar cita-cita. Namun, tidak sedikit yang tetap merasa hampa di tengah kesibukan itu. Penyebabnya sering sederhana, yaitu mereka belum tahu untuk apa sebenarnya hidup ini. Karena itu, Islam memberi jawaban yang jelas agar hidup terarah dan hati tenang.

Mengapa Kita Perlu Tujuan Hidup yang Jelas

Tanpa tujuan, langkah terasa kosong dan mudah goyah. Sebaliknya, tujuan yang benar membuat setiap usaha bernilai. Selain itu, tujuan yang benar menjaga hati dari kecemasan ketika keadaan berubah. Oleh sebab itu, seorang muslim perlu mengambil tujuan hidupnya dari wahyu, bukan dari tren atau perasaan semata.

Tujuan Utama: Beribadah kepada Allah ﷻ

Allah ﷻ menjelaskan tujuan penciptaan manusia dengan terang.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Adz-Dzariyat: 56).

Ayat ini menjadi fondasi hidup seorang muslim. Dengan demikian, setiap tujuan lain harus tunduk pada tujuan utama ini.

Ibadah Mencakup Seluruh Sisi Hidup

Sebagian orang mengira ibadah hanya shalat dan puasa. Padahal, ibadah jauh lebih luas. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam (Al-An’am: 162).

Artinya, mencari nafkah, mendidik anak, hingga menolong tetangga dapat menjadi ibadah. Syaratnya ada dua, yaitu niat yang ikhlas dan cara yang sesuai sunnah.

Meluruskan Niat Setiap Langkah

Niat menentukan arah dan nilai sebuah amal. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang agung berikut.

عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih, atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Dari hadits ini, kita belajar bahwa dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama, tetapi pahalanya berbeda. Misalnya, dua orang sama-sama berangkat kerja setiap pagi. Satu orang hanya mengejar penghasilan, sedangkan yang lain juga berniat menafkahi keluarga karena Allah ﷻ. Karena itu, periksalah niat sebelum, saat, dan sesudah beramal.

Dunia Hanyalah Jalan, Akhirat Tempat Tujuan

Dunia bukan tempat menetap. Ia hanya jalan menuju akhirat. Rasulullah ﷺ mengajarkan sikap ini kepada para sahabatnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبِي، فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ memegang kedua pundakku, lalu bersabda: Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau orang yang sedang melewati jalan (HR. Bukhari no. 6416).

Namun, bukan berarti kita meninggalkan dunia. Islam justru menyuruh kita bekerja dan berusaha. Hanya saja, dunia berada di tangan, sedangkan akhirat berada di hati. Rasulullah ﷺ menjelaskan buah dari sikap ini.

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa akhirat menjadi tujuan utamanya, Allah menjadikan kekayaan di hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Barangsiapa dunia menjadi tujuan utamanya, Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan ia tidak mendapat dunia kecuali sebatas yang telah ditetapkan baginya (HR. Ibnu Majah no. 4105, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 949).

Dengan demikian, orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akan merasa cukup dan tenang. Sebaliknya, pengejar dunia akan terus merasa kurang.

Langkah Praktis Menemukan Tujuan Hidup

Setelah memahami dalilnya, kita perlu menerapkannya. Berikut langkah sederhana yang dapat dimulai hari ini.

Perbarui Niat Setiap Pagi

Awali hari dengan niat mencari rida Allah ﷻ. Selanjutnya, hubungkan aktivitas harian dengan niat tersebut. Hasilnya, pekerjaan biasa terasa lebih bermakna.

Utamakan yang Wajib

Tunaikan shalat lima waktu tepat waktu dan jaga hak-hak Allah ﷻ. Setelah itu, atur urusan dunia di sekitarnya. Dengan begitu, prioritas hidup tidak terbalik.

Belajar Ilmu Agama

Tujuan yang syar’i hanya bisa dijalani dengan ilmu. Oleh karena itu, sisihkan waktu rutin untuk belajar dari guru yang terpercaya. Di samping itu, bergaullah dengan orang-orang shalih yang mengingatkan kita pada akhirat.

Penutup

Tujuan hidup yang syar’i adalah beribadah kepada Allah ﷻ dengan niat yang lurus dan cara yang sesuai sunnah. Dunia menjadi ladang amal, sedangkan akhirat menjadi tujuan akhir. Semoga Allah ﷻ memberi kita taufik untuk menjalani hidup yang terarah dan penuh keberkahan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan