Banyak orang ingin mengembangkan harta mereka namun merasa bingung memilih instrumen yang aman dari riba. Investasi dalam Islam bukan sekadar mencari keuntungan materi semata, melainkan sarana untuk memperkuat ekonomi keluarga demi ibadah. Oleh karena itu, kita harus memahami prinsip dasar investasi syariah yang sederhana agar harta tetap tumbuh dalam keberkahan.
Prinsip Dasar Investasi dalam Islam
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memutar harta agar manfaatnya tersebar luas bagi masyarakat. Harta yang hanya disimpan tanpa diproduktifkan justru akan habis tergerus oleh zakat dari tahun ke tahun. Allah ﷻ sangat menyukai perdagangan yang jujur dan saling menguntungkan antara kedua belah pihak.
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah: 275)
Melalui prinsip ini, kita belajar bahwa investasi syariah harus terbebas dari unsur bunga, penipuan, maupun ketidakpastian yang berlebih. Maka dari itu, setiap muslim perlu memastikan bahwa modal mereka masuk ke dalam sektor usaha yang halal dan bermanfaat.
Memilih Instrumen Investasi Syariah yang Sederhana
Selanjutnya, Anda bisa memulai investasi melalui cara-cara yang sangat praktis namun memiliki legalitas syar’i yang kuat. Salah satu bentuk investasi tertua dan termudah adalah melalui kepemilikan emas murni atau logam mulia. Rasulullah ﷺ memberikan isyarat bahwa nilai emas cenderung stabil dan terjaga dari inflasi yang merusak daya beli masyarakat.
Dari Abu Bakar bin Abi Maryam, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَنْفَعُ فِيهِ إِلَّا الدِّينَارُ وَالدِّرْهَمُ
Akan datang suatu zaman kepada manusia, yang mana pada waktu itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (emas) dan dirham (perak). (HR. Ahmad, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam As-Silsilah As-Shahihah No. 3415)
Selain emas, Anda juga dapat mencoba skema bagi hasil atau mudharabah dengan pelaku usaha mikro yang terpercaya. Skema ini memungkinkan Anda menjadi pemodal sementara orang lain menjadi pengelola dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan awal. Akhirnya, kerja sama ini akan menumbuhkan rasa persaudaraan sekaligus kemandirian ekonomi umat secara berkelanjutan.
Menjaga Hati dari Keserakahan Investasi
Lalu, hal terpenting dalam berinvestasi adalah menjaga niat agar tidak terjebak dalam ambisi kekayaan yang membutakan. Investasi yang berkah adalah investasi yang membuat pemiliknya semakin bersyukur dan gemar menolong sesama. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap transaksi agar tidak merugikan orang lain.
Hakim bin Hizam رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Dua orang yang berjual beli memiliki hak memilih selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan keadaan barang, maka akan diberkahi jual beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, maka akan dihapus keberkahan jual beli mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, pilihlah instrumen investasi yang transparan dan memiliki risiko yang dapat Anda kelola dengan baik. Keberkahan dalam investasi akan hadir saat kejujuran menjadi pondasi utama dalam setiap kesepakatan bisnis yang kita buat.
Kesimpulan
Oleh sebab itu, mulailah langkah investasi syariah Anda sekarang juga meskipun dengan jumlah modal yang masih terbatas. Pilihlah cara yang paling sederhana seperti tabungan emas atau reksadana syariah yang sudah banyak tersedia di pasaran. Mari kita kembangkan ekonomi keluarga dengan cara yang diridhai Allah ﷻ agar masa depan anak cucu kita lebih terjamin dan penuh berkah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


