Pencuri Ketenangan Pemuda Masa Kini
Fenomena pamer di media sosial sering kali menjebak pemuda dalam jeratan riya atau syirik khafi. Banyak orang merasa harus menampilkan standar hidup tertentu agar mendapatkan pengakuan dari orang lain. Namun, perilaku tersebut justru menjadi beban mental yang menghancurkan ketenangan batin karena hati selalu merasa haus akan pujian makhluk.
Mengenal Syirik yang Tersembunyi
Syirik khafi merupakan jenis kesyirikan yang sangat halus dan sering tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang melakukan amal ibadah namun ia menyisipkan niat agar orang lain melihat dan memujinya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ sangat mengkhawatirkan penyakit ini menimpa umatnya melebihi fitnah Dajjal sekalipun.
Mahmud bin Labid رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik ashghar (syirik kecil). Para sahabat bertanya: Apa itu syirik ashghar, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya. (HR. Ahmad no. 23630. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Silsilah As-Shahihah no. 951).
Penyakit ini mencuri pahala sekaligus ketenangan jiwa karena pelakunya menjadi budak ekspektasi orang lain. Ketika pujian tidak datang, maka muncul rasa kecewa dan galau yang mendalam.
Ancaman bagi Pelaku Riya
Allah ﷻ sama sekali tidak membutuhkan sekutu dalam setiap amalan yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Jika sebuah ibadah tercampur dengan niat selain untuk-Nya, maka Allah ﷻ akan menolak amalan tersebut sepenuhnya. Hal ini merupakan kerugian besar bagi pemuda yang telah bersusah payah beramal namun berakhir sia-sia.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi bahwa Allah ﷻ berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Aku adalah Yang Paling Tidak Membutuhkan sekutu di antara orang-orang yang berserikat. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan dengan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya. (HR. Muslim no. 2985).
Kehilangan keridaan Allah ﷻ adalah sumber utama kegelisahan hati yang tidak berujung. Akibatnya, hidup terasa hampa walaupun ribuan “like” dan komentar positif membanjiri akun media sosial kita.
Dampak Riya Terhadap Kesehatan Mental
Mengejar pengakuan manusia secara terus-menerus akan membuat jiwa mengalami kelelahan yang luar biasa. Pemuda yang terjebak riya akan selalu merasa gelisah karena kebahagiaannya bergantung pada variabel yang tidak pasti. Berbeda halnya dengan orang yang ikhlas, ia akan tetap tenang karena tujuannya hanyalah Allah ﷻ yang Maha Tetap.
Allah ﷻ berfirman mengenai ciri orang yang celaka karena riya dalam shalatnya:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al-Ma’un: 4-6).
Sifat riya hanya akan membuahkan kepalsuan yang sangat melelahkan untuk dijaga setiap harinya. Maka dari itu, marilah kita bersihkan hati dari keinginan untuk tampil hebat di mata manusia.
Cara Mengobati Penyakit Riya
Langkah awal untuk mengobati riya adalah dengan memperbanyak ibadah secara sembunyi-sembunyi yang hanya diketahui oleh Allah ﷻ. Selanjutnya, kita harus selalu menyadari bahwa pujian manusia tidak akan menambah kemuliaan kita di sisi-Nya sedikit pun. Selain itu, berdoalah agar Allah ﷻ senantiasa menjaga kemurnian niat kita dari segala bentuk kesyirikan.
Dengan menjauhi riya, kita akan merasakan kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya tanpa beban pencitraan. Semoga Allah ﷻ menjauhkan kita dari penyakit hati ini dan memberikan ketenangan yang hakiki.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

