Menghadapi Godaan Tren yang Menyimpang
Setiap hari, tren baru muncul di layar ponsel kita. Sebagian tren bermanfaat. Namun, banyak juga yang menjauhkan seorang muslim dari agamanya. Karena itu, seorang mukmin membutuhkan bekal penting, yaitu sabar dalam ketaatan.
Mengapa Tren Mudah Menggoda?
Tren terlihat menarik karena banyak orang melakukannya. Selain itu, media sosial membuat sesuatu yang menyimpang tampak biasa. Akibatnya, orang yang menolak ikut justru merasa aneh dan tertinggal.
Di sinilah iman diuji. Ketika semua orang bergerak ke satu arah, hati mudah ikut hanyut. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan kita untuk menancapkan kesabaran sejak awal.
Tiga Bentuk Sabar dalam Islam
Para ulama membagi sabar menjadi tiga bentuk. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan. Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat. Ketiga, sabar ketika menghadapi takdir yang menyakitkan.
Dalam menghadapi tren menyimpang, kita memerlukan dua bentuk pertama sekaligus. Kita harus tetap taat, dan kita harus menahan diri dari hal yang dilarang, meskipun banyak orang menyukainya.
Perintah Bersabar dalam Al-Qur’an
Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk bertahan bersama orang-orang saleh. Allah ﷻ berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau menaati orang yang hatinya Kami lalaikan dari mengingat Kami, yang menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya melewati batas. (QS. Al-Kahf: 28)
Ayat ini memberi dua pelajaran penting. Pertama, kita perlu mencari lingkungan yang mengingatkan kepada Allah ﷻ. Kedua, kita tidak boleh mengikuti orang yang lalai karena hawa nafsu.
Allah ﷻ juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung. (QS. Ali ‘Imran: 200)
Peringatan Nabi ﷺ tentang Mengikuti Tren
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa sebagian umatnya akan meniru kebiasaan umat terdahulu. Beliau ﷺ bersabda dalam hadits berikut:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan, seandainya mereka masuk ke lubang biawak, kalian pasti ikut masuk.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan perintah untuk meniru. Sebaliknya, hadits ini adalah peringatan agar kita waspada. Dengan demikian, kita tidak ikut-ikutan hanya karena sesuatu sedang ramai.
Sabar Itu Berat, tetapi Pahalanya Besar
Rasulullah ﷺ tidak menyembunyikan beratnya menjaga agama. Bahkan, beliau ﷺ menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat jelas.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman. Pada zaman itu, orang yang bersabar memegang agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Menggenggam bara memang panas dan menyakitkan. Meski demikian, orang yang bertahan akan mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah ﷻ.
Selain itu, Nabi ﷺ menjelaskan mengapa menjaga ketaatan terasa sulit:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda, “Surga dikelilingi hal-hal yang tidak disukai nafsu, sedangkan neraka dikelilingi syahwat.” (HR. Muslim)
Jadi, jalan menuju surga memang menuntut kesabaran. Sebaliknya, jalan menuju neraka sering tampak menyenangkan.
Langkah Praktis Menghadapi Tren Menyimpang
1. Timbang Setiap Tren dengan Dalil
Sebelum ikut, tanyakan dua hal. Apakah tren ini sesuai syariat? Apakah tren ini mengajak kepada kebaikan? Jika jawabannya tidak, tinggalkan dengan tenang.
2. Pilih Teman yang Menguatkan Iman
Sahabat yang baik akan mengingatkan ketika kita mulai tergelincir. Karena itu, dekatilah majelis ilmu dan orang-orang saleh, sebagaimana arahan dalam surat Al-Kahf.
3. Atur Konsumsi Media Sosial
Kurangi waktu menggulir layar tanpa tujuan. Kemudian, berhentilah mengikuti akun yang sering memamerkan maksiat. Dengan begitu, hati lebih terjaga.
4. Perbanyak Doa Keteguhan
Rasulullah ﷺ sering memohon keteguhan hati. Kita pun patut meneladani beliau ﷺ.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah ﷺ sering berdoa: Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Penutup
Tren akan terus datang dan pergi. Sementara itu, kebenaran tetap sama. Oleh karena itu, tetaplah bersabar dalam ketaatan, meski terasa asing dan berat. Semoga Allah ﷻ meneguhkan hati kita di atas Islam hingga akhir hayat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

