Penyakit Hati yang Menghambat Aksi Sosial
Keinginan untuk menolong sesama sering kali terhenti karena adanya gejolak di dalam dada manusia. Dua penyakit hati yang paling sering menghalangi langkah mulia ini adalah sifat kikir dan hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan. Oleh karena itu, kita harus memahami bahaya besar dari kedua sifat ini agar gerakan kepedulian sosial dapat berjalan dengan tulus dan konsisten.
Mengapa Kikir Merusak Tatanan Sosial?
Sifat kikir membuat seseorang merasa rugi jika harus membagikan sebagian hartanya kepada orang lain. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kekayaan yang kita miliki mengandung hak bagi kaum dhuafa yang membutuhkan bantuan. Ketika sifat pelit ini meredam empati, maka jurang pemisah antara si kaya dan si miskin akan semakin melebar.
Selanjutnya, Allah ﷻ memberikan peringatan keras di dalam Al-Qur’an bagi orang-orang yang menahan hartanya dari jalan kebaikan. Allah ﷻ berfirman:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat (Ali ‘Imran: 180).
Melalui ayat yang sangat tegas ini, kita dapat melihat bahwa kikir justru akan mendatangkan kesengsaraan yang nyata. Dengan demikian, menimbun harta tanpa memedulikan nasib sesama hamba Allah ﷻ merupakan jalan kehancuran spiritual yang harus kita hindari sejak dini.
Hubbud Dunya sebagai Akar Segala Kerusakan
Selain sifat kikir, cinta dunia yang berlebihan atau hubbud dunya juga menjadi musuh utama bagi para relawan sosial. Ketika dunia menjadi tujuan utama, maka seorang pemuda akan menghabiskan seluruh waktu dan energinya hanya untuk menumpuk materi. Akibatnya, ia akan melupakan kewajiban dakwah dan mengabaikan panggilan kemanusiaan di sekitarnya.
Di samping itu, Rasulullah ﷺ sejak awal telah mengingatkan umatnya mengenai dampak buruk dari sifat tamak dan pelit terhadap kelangsungan hidup suatu kaum. Dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكُ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
Jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, yang mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka (HR. Muslim nomor 2578).
Oleh karena itu, hadits ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat berharga bagi gerakan pemuda peduli. Sifat egois dan terlalu mencintai harta terbukti mampu merusak kedamaian masyarakat dan menghancurkan nilai-nilai persaudaraan Islam.
Menyembuhkan Jiwa Pemuda dari Belenggu Materi
Lantas, bagaimana cara efektif agar kita terbebas dari jeratan penyakit kikir dan cinta dunia ini? Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah dengan memaksa diri untuk bersedekah secara rutin, meskipun dalam jumlah yang kecil. Selain itu, menghadiri kajian yang membahas tentang hakikat kematian dan kehidupan akhirat juga dapat menurunkan ambisi duniawi kita.
Kemudian, para pemuda harus aktif melibatkan diri dalam berbagai aksi sosial lapangan untuk melihat langsung kesulitan para kaum dhuafa. Pengalaman spiritual saat melihat senyum bahagia para penerima manfaat akan melunakkan hati yang keras. Kesadaran ini membantu kita untuk menyadari bahwa kebahagiaan sejati terletak pada seberapa banyak manfaat yang kita berikan.
Sebagai penutup, mari kita bersihkan hati dari belenggu materi yang mengikat jiwa kebaikan kita. Jangan biarkan harta benda yang bersifat sementara ini menghalangi kita dari meraih pahala abadi di akhirat. Oleh karena itu, mari kita lawan rasa kikir dengan terus bergerak menebar kepedulian dan filantropi Islam.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


