Waktu adalah aset paling berharga yang Allah ﷻ berikan kepada setiap manusia, terutama bagi para pemuda. Namun, banyak orang seringkali mengabaikan nikmat ini hingga akhirnya mereka merasakan penyesalan yang mendalam di masa tua. Oleh karena itu, seorang pemuda Qur’ani harus memiliki kecerdasan dalam mengatur setiap detik kehidupannya agar tetap bernilai ibadah.
Nikmat yang Sering Terabaikan
Seringkali, pemuda merasa bahwa masa muda mereka masih sangat panjang sehingga mereka terbiasa menunda-nunda amal kebajikan. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umatnya agar tidak terlena dengan kesehatan dan waktu luang. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari).
Jadi, kita harus menyadari bahwa waktu luang adalah kesempatan emas untuk memperdalam ilmu syar’i dan memperbanyak hafalan Al-Qur’an. Jika kita membuang waktu untuk hal yang sia-sia, maka kita termasuk orang yang merugi. Maka dari itu, mulailah menghargai waktu sebelum kesibukan dunia menyita seluruh perhatian kita.
Prioritas dalam Kehidupan Pemuda
Selanjutnya, kunci utama dalam mengelola waktu adalah dengan menentukan skala prioritas yang benar sesuai petunjuk agama. Seorang mukmin yang baik akan meninggalkan segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat bagi akhiratnya. Allah ﷻ berfirman mengenai sifat orang-orang mukmin yang beruntung:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (QS. Al-Mu’minun: 3).
Oleh sebab itu, pemuda Qur’ani akan sangat selektif dalam memilih kegiatan harian mereka. Mereka lebih mendahulukan shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, serta menuntut ilmu daripada sekadar bermain gawai tanpa tujuan. Dengan menjaga kualitas aktivitas, maka keberkahan hidup akan senantiasa menyertai setiap langkah kita.
Disiplin Menuju Keberkahan
Selain menentukan prioritas, kedisiplinan juga menjadi faktor penentu kesuksesan seorang pemuda di dunia dan akhirat. Para ulama Salaf terdahulu sangat ketat dalam menjaga waktu mereka, bahkan lebih pelit terhadap waktu daripada terhadap harta. Mereka memahami bahwa setiap hembusan nafas akan Allah ﷻ tanyakan kelak di hari kiamat.
Oleh karena itu, mari kita susun jadwal harian yang seimbang antara urusan duniawi dan ukhrawi. Kita bisa memanfaatkan waktu pagi yang penuh berkah untuk belajar, karena Rasulullah ﷺ mendoakan keberkahan bagi umatnya di waktu pagi. Semoga dengan kecerdasan mengelola waktu, kita tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan bermanfaat bagi agama serta bangsa.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


