Strategi Melunasi Hutang agar Hidup Lebih Tenang

Beban hutang sering kali menjadi penghalang bagi kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangga. Meskipun berhutang merupakan hal yang mubah secara hukum asal, namun membiarkannya menumpuk tanpa rencana pelunasan akan membahayakan urusan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap muslim perlu memiliki strategi yang terukur agar dapat segera terbebas dari jeratan finansial ini.

Menanamkan Tekad Kuat untuk Melunasi

Langkah paling awal dalam menyelesaikan masalah hutang adalah membangun komitmen yang kuat di dalam hati. Seseorang harus menyadari bahwa melunasi hutang adalah kewajiban yang harus mereka prioritaskan di atas keinginan-keinginan lainnya. Allah ﷻ pasti memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin menunaikan hak orang lain.

Rasulullah ﷺ memberikan motivasi bahwa bantuan Allah ﷻ senantiasa menyertai orang yang berniat baik. Dari Maimunah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا

Tidak ada seorang muslim pun yang berhutang, sementara Allah mengetahui bahwa ia berniat untuk melunasinya, melainkan Allah akan memudahkan pelunasannya di dunia. (HR. Ibnu Majah No. 1953, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)

Melalui hadits tersebut, kita memahami bahwa faktor spiritual sangat menentukan keberhasilan kita dalam mengatur keuangan. Maka dari itu, mulailah dengan memohon pertolongan kepada Allah ﷻ agar pintu-pintu rezeki terbuka lebar.

Menyusun Skala Prioritas dan Menghemat Pengeluaran

Selanjutnya, Anda harus melakukan audit keuangan keluarga secara menyeluruh untuk melihat pos-pos pengeluaran yang bisa dialihkan. Hentikan segala bentuk pembelian barang-barang yang tidak mendesak demi mempercepat proses pembayaran hutang. Syariat Islam mengajarkan kita untuk mendahulukan kewajiban kepada sesama manusia sebelum mengejar kesenangan pribadi.

Pilihlah hutang yang memiliki jatuh tempo paling dekat atau yang paling mendesak untuk segera Anda selesaikan terlebih dahulu. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras bagi orang yang sengaja menunda pembayaran padahal ia mampu melakukannya. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan sabda beliau:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Menunda-nunda pembayaran hutang bagi orang yang mampu adalah sebuah kezaliman. (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu, janganlah Anda membeli barang baru sebelum kewajiban lama terpenuhi sepenuhnya. Akhirnya, kedisiplinan dalam berhemat akan menjadi kunci utama bagi kemandirian ekonomi keluarga Anda di masa depan.

Berkomunikasi secara Jujur dengan Pemilik Piutang

Langkah praktis yang juga sangat penting adalah menjaga komunikasi yang baik dengan orang yang memberikan pinjaman kepada kita. Jika Anda menghadapi kesulitan yang membuat pembayaran tertunda, sampaikanlah kondisi tersebut secara jujur dan rendah hati. Islam sangat menghargai kejujuran dan sikap amanah dalam setiap transaksi muamalah.

Jangan sekali-kali Anda menghindar atau memutus komunikasi saat waktu jatuh tempo telah tiba. Nabi ﷺ sangat memuji orang yang memiliki adab baik saat mengembalikan pinjaman. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam melunasi hutangnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan menjaga hubungan baik, pemilik piutang mungkin akan memberikan kelonggaran waktu atau kemudahan lainnya bagi Anda. Selain itu, sikap ksatria ini akan menjaga kehormatan Anda sebagai seorang muslim yang bertaqwa.

Kesimpulan

Jadi, mulailah bertindak hari ini dengan mencatat semua kewajiban dan menyusun rencana pembayaran yang realistis. Bebas dari hutang akan memberikan ruang bagi keluarga untuk lebih fokus dalam beribadah dan bersedekah secara maksimal. Mari kita berikhtiar sekuat tenaga agar kelak kita menghadap Allah ﷻ tanpa membawa beban hak orang lain yang belum tertunaikan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan