Dosa-Dosa Sosial di Era Digital

Perkembangan teknologi internet saat ini membawa tantangan baru bagi moralitas umat manusia. Meskipun memberikan banyak kemudahan, ruang digital juga menjadi tempat subur bagi munculnya berbagai dosa sosial yang sering kali dianggap remeh. Islam mengajarkan bahwa setiap interaksi, baik di dunia nyata maupun di media sosial, akan mendapatkan pertanggungjawaban yang adil. Oleh karena itu, kita harus waspada agar jempol dan lisan digital kita tidak terjebak dalam kemaksiatan yang merugikan orang lain serta merusak tatanan ukhuwah.

Bahaya Fitnah dan Penyebaran Berita Bohong

Dunia digital membuat penyebaran informasi terjadi dalam hitungan detik sehingga fitnah menjadi sangat berbahaya. Selanjutnya, seseorang sering kali dengan mudah membagikan berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Tindakan ini merupakan dosa sosial yang besar karena dapat menghancurkan kehormatan seseorang serta memicu kerusuhan massal. Islam secara tegas melarang setiap Muslim menjadi perantara bagi tersebarnya berita bohong atau hoaks yang menyesatkan.

Allah ﷻ mengingatkan bahaya lisan yang mencakup tulisan di media sosial dalam Al-Qur’an:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu adalah dosa yang besar. (QS. An-Nur: 15).

Oleh sebab itu, kita wajib menyaring setiap konten sebelum menekan tombol bagikan di gawai kita.

Ghibah Digital dan Perundungan Siber

Perilaku menggunjing atau ghibah kini sering berpindah ke dalam grup percakapan maupun kolom komentar media sosial. Kemudian, perundungan siber (cyber bullying) juga menjadi fenomena menyakitkan yang sering kali mengabaikan adab kemanusiaan. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras bahwa menyakiti perasaan sesama Muslim merupakan perbuatan yang sangat tercela. Selain itu, setiap kata kasar yang kita ketik akan menjadi saksi yang memberatkan kita di hadapan Allah ﷻ kelak.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh mendzaliminya, tidak boleh menelantarkannya, dan tidak boleh merendahkannya. (HR. Muslim).

Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa doa orang yang terzalimi di media sosial tetap memiliki kekuatan untuk menembus langit.

Menjaga Kehormatan di Ruang Publik Digital

Seorang Muslim yang bijaksana akan menggunakan akun medianya untuk menyebarkan kebaikan daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Kemudian, kita juga harus menjauhi sifat namimah atau adu domba yang sering kali muncul dalam perdebatan politik maupun agama di internet. Akhirnya, kedamaian sosial akan terwujud saat setiap individu merasa takut untuk berbuat dosa meskipun tidak ada orang yang melihatnya secara langsung. Budaya malu dalam bermedia sosial menjadi benteng utama dari kehancuran akhlak di era modern ini.

Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (namimah). (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai penutup, marilah kita jadikan teknologi ini sebagai sarana pengumpul pahala daripada menjadi ladang dosa sosial. Kemudian, bersihkanlah beranda media sosial kita dari konten-konten yang memicu kebencian serta perpecahan umat. Dengan demikian, kita dapat meraih kemuliaan akhlak sekaligus menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah pesatnya kemajuan zaman digital.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan