Keberagaman merupakan ketetapan Allah ﷻ yang tidak mungkin kita hindari dalam kehidupan di dunia. Perbedaan pendapat, latar belakang, maupun pemikiran sering kali muncul di tengah masyarakat Muslim sendiri. Oleh karena itu, Islam memberikan panduan akhlak yang sangat mulia agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi perpecahan yang merugikan. Dengan mengedepankan adab dan rasa saling menghargai, kita dapat menjaga ukhuwah tetap kokoh meskipun berada dalam keragaman.
Menyikapi Perbedaan sebagai Ketetapan Ilahi
Allah ﷻ menciptakan manusia dengan berbagai ragam agar mereka saling mengenal dan melengkapi satu sama lain. Selanjutnya, perbedaan pendapat dalam urusan yang bersifat ijtihadi seharusnya kita sikapi dengan dada yang lapang. Kita harus menyadari bahwa keseragaman mutlak bukanlah tujuan utama, melainkan persatuan dalam bingkai ketakwaan.
Allah ﷻ berfirman mengenai keragaman manusia di dalam Al-Qur’an:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat). (QS. Hud: 118).
Oleh sebab itu, memahami hakikat perbedaan akan membuat hati kita lebih tenang dan tidak mudah menyalahkan orang lain.
Larangan Berpecah Belah dan Mencela
Meskipun terdapat perbedaan, Islam melarang keras umatnya untuk saling membenci atau memutuskan tali persaudaraan. Kemudian, kita tidak boleh menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan kehormatan saudara seagama. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas agar setiap Muslim selalu menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti sesama.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR. Muslim).
Selain itu, mengedepankan prasangka baik merupakan kunci utama dalam meredam konflik yang dipicu oleh perbedaan persepsi.
Mengutamakan Persatuan di Atas Kepentingan Pribadi
Seorang Muslim yang bijaksana akan selalu mengutamakan kemaslahatan umat daripada memenangkan pendapat pribadinya. Selanjutnya, kita harus membudayakan dialog yang santun serta mencari titik temu dalam setiap perselisihan. Akhirnya, kedamaian sosial akan terwujud saat setiap individu mampu menahan egonya demi menjaga keutuhan bangunan ukhuwah Islamiyah.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Umamah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Sebagai penutup, marilah kita jadikan perbedaan sebagai sarana untuk memperkaya wawasan dan melatih kesabaran. Kemudian, selalu hiasi interaksi kita dengan akhlak yang lembut agar rahmat Allah ﷻ senantiasa turun. Dengan demikian, persatuan umat akan tetap terjaga di tengah badai perbedaan yang melanda.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


