Dunia informasi saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga berita hoaks mudah sekali menyebar. Islam memberikan solusi cerdas melalui konsep tabayyun atau proses verifikasi data untuk menjaga kerukunan umat. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib memiliki sikap teliti sebelum memercayai atau menyebarkan suatu kabar kepada orang lain. Dengan menjalankan etika ini, kita dapat menghindari fitnah serta perpecahan yang sering kali muncul akibat kesalahpahaman informasi.
Perintah Allah ﷻ untuk Teliti
Allah ﷻ secara tegas memerintahkan orang-orang beriman agar memeriksa kebenaran setiap informasi yang datang dari pihak yang tidak jelas kejujurannya. Selanjutnya, sikap terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu tanpa bukti autentik hanya akan mendatangkan penyesalan yang mendalam di kemudian hari. Kita harus menyadari bahwa satu berita salah dapat menghancurkan reputasi seseorang atau bahkan merusak keutuhan sebuah bangsa. Melalui tabayyun, seorang mukmin menunjukkan kedewasaan berpikir serta ketakwaan yang tinggi kepada Sang Pencipta.
Allah ﷻ memberikan bimbingan-Nya dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6).
Oleh sebab itu, janganlah kita menjadi penyambung lidah bagi berita-berita yang belum jelas sumber dan faktanya.
Bahaya Menyebarkan Setiap Kabar
Seorang Muslim yang baik tidak akan menceritakan atau membagikan setiap hal yang ia dengar tanpa proses penyaringan terlebih dahulu. Kemudian, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras bahwa menceritakan semua informasi tanpa verifikasi termasuk dalam kategori tindakan dusta. Sifat latah dalam berbagi informasi tanpa dasar yang kuat akan mengaburkan kebenaran serta merugikan banyak pihak. Selain itu, menjaga kejujuran informasi merupakan bagian dari tanggung jawab moral kita sebagai saksi kebenaran di muka bumi.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar. (HR. Muslim).
Selanjutnya, kita harus memastikan bahwa informasi yang kita bagikan memberikan manfaat serta tidak mengandung unsur adu domba.
Membangun Budaya Literasi Islami
Jika budaya tabayyun telah melekat dalam diri setiap individu, maka stabilitas sosial akan terjaga dengan sangat kokoh. Kemudian, masyarakat tidak akan mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif yang bertujuan untuk memecah belah persatuan umat. Akhirnya, kedamaian akan terwujud saat setiap orang lebih mengedepankan fakta serta kejujuran dalam berkomunikasi. Budaya tabayyun ini menjadi benteng pertahanan utama dalam menghadapi arus disinformasi di era digital.
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Sikap tenang (hati-hati) itu datangnya dari Allah, sedangkan sikap tergesa-gesa itu datangnya dari setan. (HR. Abu Ya’la, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’).
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari fitnah lisan dan informasi. Kemudian, jadikanlah tabayyun sebagai gaya hidup dalam berinteraksi baik di dunia nyata maupun di media sosial. Dengan demikian, kita dapat meraih kemuliaan akhlak sekaligus menjaga ukhuwah Islamiyah dari ancaman berita bohong yang menyesatkan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

