Banyak orang menyangka bahwa puasa hanya berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Padahal, hakikat puasa yang sebenarnya mencakup pengendalian seluruh anggota badan, terutama lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat. Lisan seringkali menjadi penentu apakah pahala puasa kita tetap utuh atau justru habis tanpa sisa.
Lisan Sebagai Cerminan Takwa
Seorang mukmin yang sedang menjalankan ibadah di Madrasah Ramadhan harus memahami bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi yang besar. Allah ﷻ telah memberikan peringatan melalui firman-Nya mengenai pengawasan ketat terhadap setiap ucapan manusia. Allah ﷻ berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Qaf: 18).
Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan bagian integral dari upaya meraih derajat takwa. Kita harus memastikan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita hanyalah kata-kata yang baik atau lebih baik diam. Selanjutnya, lisan yang terjaga akan membantu hati tetap fokus pada dzikir dan ibadah selama bulan suci ini.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Rasulullah ﷺ secara tegas mengingatkan bahwa Allah ﷻ tidak memerlukan puasa seseorang jika ia masih gemar berkata dusta atau melakukan perbuatan sia-sia. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah melakukannya, maka Allah tidak butuh dari usahanya meninggalkan makan dan minumnya (Hadits Riwayat Bukhari nomor 1903).
Hadits ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang masih hobi bergosip, mencela, atau berdebat kusir saat sedang berpuasa. Selain itu, ucapan sia-sia dapat menggugurkan nilai pahala puasa sehingga yang tersisa hanyalah rasa haus dan letih semata. Maka, kita perlu lebih selektif dalam memilih topik pembicaraan di media sosial maupun di dunia nyata.
Adab Saat Menghadapi Provokasi
Terkadang, saat berpuasa kita menemui orang yang memancing amarah atau mengajak pada pertengkaran. Dalam kondisi seperti ini, Nabi ﷺ mengajarkan sebuah tameng yang sangat ampuh untuk melindungi pahala kita. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Dan apabila pada hari salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika ada orang lain yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaknya ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa (Hadits Riwayat Bukhari nomor 1904 dan Muslim nomor 1151).
Pernyataan “Aku sedang berpuasa” bukan berarti kita ingin pamer amalan kepada orang lain. Namun, kalimat tersebut berfungsi sebagai pengingat bagi diri sendiri dan orang lain bahwa kita sedang berada dalam ibadah yang suci. Akhirnya, kedamaian hati akan terjaga dan pahala puasa tidak akan hilang hanya karena emosi sesaat.
Tips Menghindari Ucapan Sia-sia
Supaya kita bisa lulus dari ujian lisan ini, ada beberapa langkah praktis yang bisa kita terapkan setiap hari:
-
Berpikir Sebelum Bicara: Tanyakan pada diri sendiri apakah ucapan ini mengandung manfaat atau justru mengandung dosa.
-
Perbanyak Dzikir: Isilah kekosongan waktu dengan bertasbih atau membaca Al-Qur’an agar lisan tidak mencari pelarian pada gosip.
-
Batasi Media Sosial: Kurangi interaksi pada platform yang berpotensi memicu perdebatan yang tidak berguna.
-
Menjauhi Majelis Ghibah: Jika sebuah perkumpulan mulai membicarakan keburukan orang lain, segeralah beralih ke topik lain atau tinggalkan tempat tersebut.
Dengan menjaga lisan, kita sedang berusaha menyempurnakan kualitas puasa kita di mata Allah ﷻ. Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing lisan kita untuk hanya mengucapkan kebenaran dan kebaikan selama bulan Ramadhan dan seterusnya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

