Pendahuluan
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang ditunaikan pada akhir bulan Ramadhan. Ia bukan sekadar penutup ibadah puasa, tetapi memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat besar. Melalui zakat fitrah, Islam membersihkan jiwa orang yang berpuasa dan menghadirkan kebahagiaan bagi kaum fakir dan miskin pada hari raya. Inilah ibadah sederhana dengan dampak luas bagi umat.
Pengertian dan Kedudukan Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa muslim—baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak—yang memiliki kelebihan makanan pada malam dan hari Idul Fitri. Kewajiban ini menunjukkan bahwa zakat fitrah adalah ibadah yang bersifat universal dan menyentuh seluruh lapisan umat.
Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap muslim, baik hamba maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tujuan Zakat Fitrah
1. Mensucikan Orang yang Berpuasa
Zakat fitrah berfungsi sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kekurangan dan kesalahan selama Ramadhan. Hal ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)
2. Membahagiakan Fakir Miskin
Zakat fitrah memastikan bahwa kaum fakir dan miskin dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Mereka tidak dibiarkan kekurangan ketika umat Islam merayakan Idul Fitri.
Nilai Sosial Zakat Fitrah
1. Menumbuhkan Kepedulian
Zakat fitrah melatih umat Islam untuk peduli terhadap kondisi sesama, terutama mereka yang kekurangan.
2. Menjaga Keharmonisan Umat
Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar di hari raya, potensi kecemburuan sosial dapat diminimalkan dan persaudaraan semakin kuat.
3. Meratakan Kebahagiaan Idul Fitri
Idul Fitri bukan hanya milik orang yang mampu, tetapi milik seluruh umat Islam tanpa terkecuali.
Waktu dan Tata Cara Penunaian
Zakat fitrah ditunaikan sejak terbenam matahari di akhir Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Waktu terbaiknya adalah sebelum shalat Id agar manfaatnya segera dirasakan oleh para penerima.
Zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok sesuai kebiasaan setempat, seperti beras, dengan kadar satu sha’ untuk setiap jiwa.
Zakat Fitrah dan Nilai Ketaatan
Menunaikan zakat fitrah adalah bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Allah ﷻ berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri.” (Al-A’la: 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesucian diri, termasuk melalui zakat, adalah jalan menuju keberuntungan sejati.
Penutup
Zakat fitrah memiliki nilai yang sangat besar dalam Islam. Ia menyucikan jiwa orang yang berpuasa, membahagiakan fakir miskin, dan menjaga keharmonisan umat di hari raya. Dengan menunaikannya tepat waktu dan penuh keikhlasan, seorang muslim tidak hanya menyempurnakan ibadah Ramadhannya, tetapi juga menegakkan nilai keadilan dan kasih sayang dalam masyarakat. Semoga Allah ﷻ menerima zakat fitrah kita dan menjadikannya pemberat timbangan amal kebaikan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


