Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak diukur dari jabatan, kekayaan, atau garis keturunan, melainkan dari ketakwaannya. Dalam hal tolong-menolong, seorang Muslim diperintahkan untuk mengulurkan tangan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan status sosial. Sikap inklusif ini adalah kunci terciptanya keadilan dan kedamaian di tengah masyarakat.
Kesetaraan Manusia di Hadapan Allah ﷻ
Semua manusia berasal dari sumber yang satu. Perbedaan yang ada di dunia hanyalah sarana untuk saling melengkapi, bukan untuk saling merendahkan atau mengelompokkan bantuan hanya kepada golongan tertentu. Islam memandang setiap nyawa manusia memiliki kehormatan yang wajib dijaga.
Allah ﷻ berfirman mengenai perintah bekerja sama dalam kebaikan:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (QS. Al-Ma’idah: 2).
Larangan Bersikap Sombong dalam Berinteraksi
Menolong sesama harus didasari dengan rasa rendah hati. Tidak boleh seseorang merasa lebih tinggi kedudukannya sehingga ia merasa berjasa atau mengharapkan imbalan sanjungan. Rasulullah ﷺ sangat melarang sikap sombong yang sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk menolong mereka yang dianggap berstatus rendah.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. (HR. Muslim).
Keutamaan Memberi Manfaat secara Universal
Prinsip utama dalam sosialitas Islam adalah menebar manfaat seluas-luasnya. Kebaikan yang dilakukan tanpa melihat status orang yang dibantu justru menunjukkan ketulusan niat (ikhlas). Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa standar manusia terbaik adalah mereka yang kehadirannya dirasakan manfaatnya oleh banyak orang tanpa batas.
Sahabat Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. At-Thabrani, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Dengan menanggalkan sekat-sekat status sosial saat berbuat baik, kita telah mengamalkan esensi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menolong tanpa pandang bulu bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga sedang memperbaiki kualitas hati dan spiritualitas kita sendiri.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


