Memasuki fase akhir Ramadan, suasana kebatinan seorang Muslim seharusnya semakin mendalam dan penuh harap. Kehadiran Lailatul Qadr yang sangat rahasia menuntut kita untuk mempersiapkan diri dengan hati yang bersih. Salah satu cara terbaik untuk mensucikan jiwa adalah melalui tangisan keinsafan saat bersujud di hadapan Allah ﷻ. Tangisan tersebut bukan sekadar luapan emosi, melainkan bukti kejujuran seorang hamba yang menyadari tumpukan dosanya.
Keutamaan Menangis Karena Takut kepada Allah
Menangis karena takut kepada Allah ﷻ merupakan ibadah hati yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam. Air mata yang jatuh karena menyesali maksiat akan menjadi penghalang bagi seseorang dari siksa api neraka. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira mengenai mata yang senantiasa basah karena mengingat keagungan-Nya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ
Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu kembali ke puting induknya (Hadits Riwayat Tirmidzi nomor 1633, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa hati yang keras seringkali sulit untuk mengeluarkan air mata. Maka, bulan Ramadan ini adalah waktu yang paling tepat untuk melembutkan hati melalui tilawah dan renungan malam. Selain itu, tangisan yang lahir dari keikhlasan akan mendatangkan ketenangan jiwa yang tidak ternilai harganya.
Meneladani Air Mata Rasulullah ﷺ dan Sahabat
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling takut kepada Allah ﷻ meskipun beliau sudah mendapatkan jaminan surga. Beliau ﷺ seringkali menangis saat membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan keagungan Ilahi. Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, beliau menceritakan saat Nabi ﷺ memintanya membacakan Al-Qur’an:
قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ، قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ نَعَمْ، فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الآيَةِ فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا، قَالَ حَسْبُكَ الآنَ، فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ
Beliau ﷺ bersabda: Bacakanlah untukku. Aku berkata: Wahai Rasulullah, haruskah aku membacakannya untukmu padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu? Beliau menjawab: Ya. Maka aku membacakan surat An-Nisa sampai aku tiba pada ayat: Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seseorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka ini. Beliau ﷺ bersabda: Cukup untuk sekarang. Lalu aku menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mencucurkan air mata (Hadits Riwayat Bukhari nomor 5050 dan Muslim nomor 800).
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa perenungan terhadap makna ayat seharusnya mampu menggetarkan sanubari kita. Para sahabat رضي الله عنهما juga mengikuti jejak beliau dengan senantiasa membasahi janggut mereka saat bermunajat. Maka, sudah sepantasnya kita merasa malu jika mata ini begitu mudah menangis karena urusan dunia namun sangat kering untuk urusan akhirat.
Meraih Keinsafan di Malam Mulia
Allah ﷻ sangat mencintai rintihan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin kembali ke jalan yang lurus. Di sepuluh malam terakhir, kita memiliki kesempatan emas untuk menghapus catatan buruk masa lalu dengan bertaubat nasuha. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an mengenai ciri hamba-Nya yang bertaqwa:
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk (Al-Isra: 109).
Ayat ini menggambarkan bahwa tangisan yang benar akan menambah kualitas kekhusyukan seseorang dalam beribadah. Oleh karena itu, janganlah kita menahan air mata saat memohon ampunan di waktu sahur atau saat sujud terakhir. Akhirnya, keinsafan yang tulus akan membawa kita pada perubahan perilaku yang lebih baik setelah Ramadan berakhir.
Langkah Praktis Melembutkan Hati
Agar kita bisa merasakan kelezatan menangis karena takut kepada Allah ﷻ, silakan lakukan beberapa hal berikut:
-
Merenungi Dosa: Bayangkan setiap kesalahan yang pernah kita perbuat dan betapa luasnya ampunan Allah ﷻ yang masih menunggu kita.
-
Membaca Tafsir: Pahami ayat-ayat tentang azab dan rahmat agar hati lebih mudah terenyuh saat membacanya.
-
Menyepi di Malam Hari: Carilah waktu dan tempat yang sunyi untuk berkomunikasi secara pribadi dengan Sang Pencipta.
-
Mengingat Kematian: Sadari bahwa umur kita sangat terbatas dan setiap saat kita bisa kembali menghadap-Nya.
Melalui tangisan keinsafan ini, kita berharap bisa menjemput Lailatul Qadr dalam keadaan yang paling dicintai Allah ﷻ. Semoga Allah ﷻ mengampuni seluruh khilaf kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang murni hatinya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


