Memilih asupan untuk keluarga bukan sekadar masalah rasa atau harga yang murah semata. Bagi seorang muslim, memastikan standar halalan thayyiban merupakan bentuk ketaatan yang paling dasar kepada Allah ﷻ. Prinsip ini menjadi pondasi penting agar setiap harta yang kita belanjakan berubah menjadi energi kebaikan bagi tubuh.
Makna Mendalam Halal dan Thayyib
Sering kali kita hanya terfokus pada status halal secara hukum agama saja tanpa memperhatikan kualitasnya. Padahal, Allah ﷻ menggandangkan perintah halal dengan kata thayyib yang berarti baik, suci, dan berkualitas tinggi. Hal ini tercantum jelas dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 168)
Melalui ayat tersebut, kita diperintahkan untuk selektif dalam memilih sumber makanan maupun barang konsumsi lainnya. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa cara mendapatkannya benar dan zatnya pun memberikan manfaat bagi kesehatan.
Hubungan Makanan dengan Kabulnya Doa
Selanjutnya, status kehalalan rezeki memiliki kaitan yang sangat erat dengan hubungan spiritual kita kepada Sang Pencipta. Rezeki yang tidak halal dapat menjadi penghalang bagi terkabulnya doa-doa yang kita panjatkan setiap hari. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceritakan seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh hingga rambutnya kusut dan berdebu.
Orang tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,” namun Rasulullah ﷺ memberikan catatan penting:
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim)
Tentu saja hadits ini menjadi peringatan keras bagi setiap kepala rumah tangga dalam memberikan nafkah. Maka, pilihlah barang yang jelas asal-usulnya agar jalur komunikasi spiritual kita dengan Allah ﷻ tetap terjaga dengan baik.
Menjaga Keberkahan Generasi Masa Depan
Selain urusan doa, harta yang thayyib juga sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak-anak di masa depan. Makanan yang baik akan menumbuhkan perilaku yang baik pula karena daging yang tumbuh dari sesuatu yang suci cenderung mudah untuk diajak beribadah. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada para sahabat mengenai pentingnya menjaga diri dari perkara syubhat.
Dari Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Akhirnya, membiasakan prinsip halalan thayyiban di rumah tangga akan menghadirkan ketenangan lahir dan batin bagi seluruh anggota keluarga. Dengan demikian, kita telah melakukan langkah nyata untuk menjaga keutuhan iman dan kesehatan jasmani secara bersamaan.
Kesimpulan
Oleh sebab itu, mulailah memeriksa kembali setiap belanjaan dan sumber penghasilan yang masuk ke dalam rumah. Pastikan semuanya memenuhi standar halal secara syariat dan baik secara kualitas agar keberkahan selalu mengalir. Ingatlah bahwa investasi terbaik bagi keluarga dimulai dari apa yang mereka konsumsi setiap hari.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


