Momen berbuka puasa atau iftar merupakan waktu yang paling hamba tunggu-tunggu setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Seringkali, kita terjebak pada keinginan untuk menyantap semua hidangan lezat hingga melupakan esensi ibadah di dalamnya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan adab-adab khusus agar waktu berbuka kita bernilai pahala besar di sisi Allah ﷻ.
Menyegerakan Waktu Berbuka
Islam adalah agama yang memberikan kemudahan bagi pemeluknya, termasuk dalam urusan waktu berbuka puasa. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan kita untuk segera membatalkan puasa begitu waktu maghrib telah tiba tanpa menunda-nundanya. Kebaikan umat ini senantiasa terjaga selama mereka mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dalam hal ini. Dari Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (Hadits Riwayat Bukhari nomor 1957 dan Muslim nomor 1098).
Menyegerakan berbuka merupakan bentuk ketaatan dan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan ahli kitab. Selanjutnya, tindakan ini menunjukkan sikap hamba yang segera menyambut pemberian dari Allah ﷻ setelah menyelesaikan kewajiban. Maka, janganlah kita sengaja memperlambat waktu berbuka hanya karena merasa masih kuat atau tanggung sedang melakukan aktivitas.
Memilih Menu Sesuai Sunnah
Rasulullah ﷺ memberikan teladan mengenai jenis makanan terbaik untuk membatalkan puasa agar kesehatan jasmani dan rohani tetap terjaga. Beliau ﷺ mengutamakan kurma atau air putih sebelum menyantap hidangan berat lainnya. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, beliau menceritakan kebiasaan Nabi ﷺ:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah ﷺ biasanya berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma basah) sebelum shalat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa biji tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, maka beliau meminum beberapa teguk air (Hadits Riwayat Abu Dawud nomor 2356 dan Tirmidzi nomor 696, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Pilihan menu ini mengandung hikmah medis yang luar biasa untuk mengembalikan energi tubuh secara cepat. Selain itu, mengikuti cara makan Nabi ﷺ akan mendatangkan keberkahan yang tidak kita dapatkan dari sekadar kenyang. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak berlebihan dalam menyediakan aneka takjil yang justru bisa mengganggu kekhusyukan ibadah shalat maghrib.
Larangan Berlebih-lebihan dalam Makan
Penyakit yang sering muncul saat Ramadhan adalah perilaku israf atau berlebihan ketika waktu berbuka tiba. Nafsu makan yang tidak terkendali seringkali membuat seseorang mengisi perutnya hingga sesak dan sulit untuk bergerak. Allah ﷻ secara tegas melarang hamba-Nya untuk melampaui batas dalam hal makan dan minum. Allah ﷻ berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (Al-A’raf: 31).
Selain ayat tersebut, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa perut manusia adalah wadah yang paling buruk jika terisi penuh secara berlebihan. Seseorang yang kekenyangan biasanya akan merasa malas untuk melanjutkan ibadah shalat tarawih dan tilawah Al-Qur’an. Akhirnya, tujuan puasa untuk melatih pengendalian diri justru gagal total pada saat berbuka.
Mengamalkan Doa Saat Berbuka
Waktu berbuka adalah salah satu saat paling mustajab untuk memohon kepada Allah ﷻ segala kebaikan dunia dan akhirat. Kita harus menghidupkan lisan dengan doa-doa yang Nabi ﷺ ajarkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat kekuatan selama berpuasa. Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ jika berbuka membaca doa:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah (Hadits Riwayat Abu Dawud nomor 2357, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Keikhlasan dalam membaca doa ini akan menguatkan jiwa kita setelah seharian menahan dahaga yang sangat. Maka, mari kita jadikan momen iftar sebagai sarana memperkuat iman, bukan sekadar ajang pemuasan nafsu makan. Semoga Allah ﷻ menerima seluruh amalan puasa kita dan memberikan keberkahan pada setiap rizki yang kita makan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


