Dalam ajaran Islam, kesalehan seorang hamba tidak hanya diukur dari seberapa lama ia bersujud di atas sajadah, tetapi juga bagaimana ia bersikap di tengah masyarakat. Inilah yang disebut dengan akhlak sosial, yakni cerminan iman yang tertuang dalam interaksi harmonis antar sesama manusia.
Landasan Tauhid dalam Hubungan Sosial
Akhlak sosial dalam Islam berpijak pada prinsip bahwa setiap manusia adalah makhluk ciptaan Allah ﷻ. Menghormati sesama manusia berarti menghormati Penciptanya. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan dilihat dari kasta atau sukunya, melainkan dari ketakwaannya yang tercermin dalam perilaku baik.
Allah ﷻ berfirman mengenai keragaman manusia agar saling mengenal dan berbuat baik:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13).
Larangan Menyakiti dan Kewajiban Menjaga Lisan
Salah satu pilar utama akhlak sosial adalah menjaga perasaan dan kehormatan orang lain. Islam melarang keras perbuatan yang dapat merusak ukhuwah (persaudaraan), seperti mencela, merendahkan, atau menyebarkan aib sesama.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan Membantu Kesulitan Sesama
Hakikat akhlak sosial juga terletak pada ringan tangan dalam membantu kesulitan orang lain. Islam menjanjikan kemudahan di akhirat bagi mereka yang mau memudahkan urusan saudaranya di dunia. Kepedulian ini bukan hanya soal materi, tapi juga tenaga dan pikiran.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. (HR. Muslim).
Mewujudkan Masyarakat yang Beradab
Apabila setiap individu mempraktikkan hakikat akhlak sosial ini, maka akan tercipta lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang. Karakter sosial yang kuat merupakan benteng utama dalam menghadapi perpecahan. Akhlak yang baik adalah timbangan terberat bagi seorang hamba pada hari kiamat kelak.
Sahabat Abu Darda رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


