Berbagi sebagai Wujud Syukur

Syukur menjadi fondasi utama bagi akhlak seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak cukup hanya mengucapkan syukur melalui lisan, melainkan harus membuktikannya melalui perbuatan nyata. Salah satu bentuk pembuktian tersebut adalah dengan berbagi kepada sesama manusia yang membutuhkan. Oleh karena itu, berbagi menunjukkan bahwa seorang hamba mengakui seluruh nikmatnya berasal dari Allah ﷻ.

Janji Allah ﷻ bagi Hamba yang Bersyukur

Allah ﷻ memberikan perintah kepada setiap hamba agar senantiasa bersyukur atas segala anugerah. Selain itu, Dia menjanjikan tambahan nikmat yang luar biasa bagi mereka yang pandai berterima kasih. Allah ﷻ berfirman dalam kitab-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah) ketika Rabb kalian memberitahukan, “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7).

Ayat tersebut menegaskan bahwa syukur menjadi sebab utama bertambahnya keberkahan hidup kita. Maka dari itu, menggunakan nikmat pada jalan kebaikan merupakan wujud syukur yang paling jujur.

Syukur Melalui Amal dan Kedermawanan

Kita perlu menyadari bahwa syukur menuntut adanya amal nyata dan bukan sekadar pengakuan di dalam hati. Allah ﷻ secara khusus memerintahkan keluarga Nabi Dawud عليه السلام untuk membuktikan syukur mereka melalui perbuatan. Allah ﷻ berfirman:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur. (QS. Saba’: 13).

Selanjutnya, kita bisa melihat teladan utama pada diri Rasulullah ﷺ yang sangat dermawan dan rajin beribadah. Aisyah رضي الله عنها mengisahkan bahwa Nabi ﷺ melakukan shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Saat ditanya alasannya, beliau ﷺ menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur? (HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2819).

Berbagi Sebagai Benteng Penjaga Nikmat

Selain mendatangkan tambahan, berbagi juga berfungsi sebagai benteng agar nikmat tidak hilang dari tangan kita. Sebaliknya, sikap kikir dan kufur nikmat justru dapat mengundang datangnya musibah dan rasa takut. Oleh karena itu, sedekah tidak akan pernah mengurangi kekayaan seseorang sedikit pun. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidak akan mengurangi harta. (HR. Muslim no. 2588).

Kemudian, kegiatan berbagi juga mampu menumbuhkan empati sosial serta menjaga keseimbangan di tengah masyarakat. Melalui bantuan yang kita berikan, Allah ﷻ akan senantiasa menjamin pertolongan-Nya bagi kita. Abu Hurairah رضي الله عنه menyampaikan sabda Nabi ﷺ:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. (HR. Muslim no. 2699).

Akhirnya, mari kita jadikan berbagi sebagai gaya hidup untuk mengharap keridhoan-Nya. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur dan selalu ringan tangan dalam menebar manfaat bagi umat.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan