Dalam struktur agama Islam, aqidah dan akhlak adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Aqidah ibarat akar pohon yang menghujam kuat ke dalam tanah, sedangkan akhlak adalah buah yang dihasilkan oleh pohon tersebut. Tanpa aqidah yang lurus, akhlak seseorang tidak memiliki fondasi yang kokoh, dan tanpa akhlak mulia, aqidah seseorang belum menampakkan hasilnya yang nyata.
Aqidah sebagai Akar Perilaku
Aqidah yang benar adalah keyakinan murni kepada Allah ﷻ bahwa Dia selalu mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya. Kesadaran akan kehadiran Allah ini mendorong seseorang untuk senantiasa bersikap jujur, amanah, dan rendah hati. Orang yang aqidahnya lurus akan berbuat baik bukan karena ingin dipuji manusia, melainkan karena mengharap ridha Sang Pencipta.
Allah ﷻ berfirman mengenai perumpamaan kalimat tauhid yang menghasilkan amal shalih:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (QS. Ibrahim: 24).
Hubungan Tauhid dengan Keluhuran Budi Pekerti
Tauhid atau mengesakan Allah ﷻ secara murni akan memerdekakan manusia dari sifat-sifat buruk seperti sombong dan riya. Ketika seseorang yakin bahwa segala nikmat berasal dari Allah, ia akan menjadi pribadi yang bersyukur dan tidak merendahkan sesama. Keyakinan kepada hari akhir juga membuat seorang Muslim sangat berhati-hati agar tidak menyakiti orang lain.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Buah dari Aqidah yang Benar dalam Kehidupan
Seorang Muslim yang memiliki aqidah lurus akan tercermin dalam kelembutan bicaranya, kejujuran dalam muamalahnya, serta kelapangan hatinya dalam memaafkan. Akhlak ini muncul secara alami sebagai konsekuensi dari rasa takut dan cintanya kepada Allah ﷻ. Jika seseorang mengaku beriman namun akhlaknya buruk, maka ia perlu memeriksa kembali kualitas aqidahnya.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه mengabarkan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau bersabda:
تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
Bertakwa kepada Allah dan berakhlak dengan akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Ketakwaan (aqidah) dan akhlak yang baik disebut secara beriringan sebagai kunci utama meraih jannah. Dengan memperbaiki aqidah, secara otomatis kita sedang membangun fondasi utama bagi karakter yang mulia di mata manusia dan di hadapan Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


