Bayangkan kamu sedang menempuh perjalanan jauh. Bekal habis, badan lelah, dan uang di kantong menipis. Tentu saja, kamu berharap ada tempat singgah yang ramah. Nah, Islam mengajak kita menjadi orang yang menyediakan tempat itu. Karena itu, memuliakan tamu dan musafir menjadi akhlak yang sangat dianjurkan, terutama bagi anak muda.
Islam Memuliakan Tamu
Rasulullah ﷺ mengaitkan penghormatan kepada tamu dengan keimanan. Beliau ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, menjamu tamu bukan sekadar sopan santun. Lebih dari itu, sikap ini menjadi tanda iman. Musafir yang singgah di masjid pun termasuk tamu yang berhak mendapat sambutan hangat.
Teladan Nabi Ibrahim dalam Menjamu Tamu
Allah ﷻ menceritakan kisah Nabi Ibrahim عليه السلام bersama para tamunya. Allah ﷻ berfirman:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Sudahkah sampai kepadamu cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan salam. Ibrahim menjawab, salam (kamu) orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi diam-diam menemui keluarganya, kemudian datang dengan membawa daging anak sapi gemuk. Lalu dia menghidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, mengapa tidak kamu makan? (QS. Adz-Dzariyat: 24-27)
Perhatikan sikap Nabi Ibrahim عليه السلام. Beliau menjawab salam, lalu segera menyiapkan hidangan terbaik. Padahal, beliau belum mengenal para tamunya. Dengan demikian, kita belajar menjamu siapa saja tanpa memilih-milih.
Bekal Lebih Milik Musafir yang Kekurangan
Selain itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita berbagi kelebihan dengan para musafir. Beliau ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا ظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا زَادَ لَهُ
Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa memiliki kendaraan lebih, hendaklah ia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki kendaraan. Barang siapa memiliki bekal lebih, hendaklah ia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki bekal. (HR. Muslim)
Misalnya, kelebihan makanan, minuman, atau tempat istirahat bisa kita bagikan kepada musafir. Ternyata, kebaikan ini tidak harus menunggu kita kaya.
Kepedulian Pemuda Masjid terhadap Musafir
Ajaran mulia tadi kini hidup di banyak masjid di Indonesia. Berikut beberapa contohnya.
Masjid Pemuda Konsulat, Surabaya
Masjid ini menyediakan makan gratis lebih dari 120 porsi setiap hari, serta tempat tidur dan mandi untuk musafir. Selain itu, pengurusnya menggelar sarapan gratis sehabis shalat Subuh dan menyiapkan tempat tidur gratis bagi musafir. Menariknya, sebuah penelitian menyebut program makan gratis semacam ini menjadi wadah interaksi sosial dan penguatan spiritual bagi para pemuda.
Masjid Istiqlal, Jakarta
Pada Ramadan 2025, Masjid Istiqlal menyiapkan sekitar 4.000 bungkus makanan buka puasa dan sahur setiap hari. Tidak hanya itu, menurut Menteri Agama, masjid ini juga menyediakan sekitar 40 kamar gratis lengkap dengan sarapan bagi musafir dan tamu.
Masjid Ishlahul Muslimin, Mataram
Di Mataram, program Makan Siang Gratis terbuka bagi warga sekitar, kaum dhuafa, pedagang kecil, hingga musafir yang singgah. Caranya sederhana. Jamaah cukup mengisi kontainer di depan masjid dengan apa saja yang ingin mereka bagikan.
Masjid KH Ahmad Dahlan, Banguntapan
Di Banguntapan, Yogyakarta, takmir menyediakan rest area untuk beristirahat, serta sarapan dan makan siang gratis setiap hari. Bahkan, mereka sedang membangun dapur umum untuk melayani musafir dengan lebih baik.
Cara Pemuda Ikut Peduli
Kamu tidak perlu menunggu masjid besar untuk mulai berbagi. Cobalah langkah-langkah berikut:
- Pertama, bentuk tim relawan di masjid dekat rumahmu untuk menyiapkan makan dan minum bagi musafir.
- Kedua, sediakan air minum, teh hangat, atau kopi gratis di teras masjid.
- Ketiga, ajak jamaah mengisi kotak makanan atau kontainer berbagi setiap hari.
- Keempat, jaga kebersihan tempat istirahat dan kamar mandi agar musafir nyaman.
- Terakhir, sambut setiap musafir dengan senyum dan salam.
Penutup
Memuliakan tamu dan musafir adalah bukti iman yang nyata. Lagi pula, para pemuda masjid sudah membuktikan bahwa kebaikan ini mudah dimulai dari hal kecil. Oleh sebab itu, yuk ambil peran di masjid terdekat. Semoga Allah ﷻ menerima amal kita dan menjadikannya pemberat timbangan kebaikan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

