Pemuda yang Paling Alim dalam Urusan Halal dan Haram
Halal dan haram adalah pondasi kehidupan seorang muslim. Setiap langkah, mulai dari makanan hingga muamalah, berkaitan dengan keduanya. Karena itu, kita perlu belajar dari sahabat yang unggul di bidang ini. Ia adalah Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, seorang pemuda yang Nabi ﷺ puji karena ilmunya.
Mengenal Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه
Mu’adz berasal dari kaum Anshar di Madinah. Ia masuk Islam saat masih muda dan hadir dalam Baiat Aqabah yang kedua. Sejak itu, ia lekat dengan majelis Rasulullah ﷺ. Akibatnya, ilmunya tumbuh pesat di usia muda.
Gelar dari Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ menyebut keunggulan beberapa sahabat dalam satu sabda. Salah satunya, beliau menyebut Mu’adz sebagai sahabat yang paling mengerti urusan halal dan haram. Berikut potongan hadits tersebut.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Dan yang paling mengetahui tentang halal dan haram di antara mereka adalah Mu’adz bin Jabal.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Pentingnya Ilmu Halal dan Haram
Ilmu ini sangat penting karena menyangkut hak Allah ﷻ untuk menetapkan hukum. Oleh sebab itu, Allah ﷻ memperingatkan hamba-Nya agar tidak sembarangan berfatwa.
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung. (QS. An-Nahl: 116)
Dengan demikian, pemuda yang alim dalam halal dan haram sangat berharga. Ia menjaga dirinya dan membimbing masyarakat dengan ilmu yang benar.
Dipercaya Mengajar Penduduk Yaman
Karena keilmuannya, Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz ke Yaman. Saat itu, usianya masih tergolong muda. Selain itu, beliau membekalinya dengan urutan dakwah yang jelas.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَعَثَ مُعَاذًا رضي الله عنه إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ: ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz رضي الله عنه ke Yaman. Beliau bersabda, “Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaatinya, beritahukan bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan adab mengajar. Pertama, mulailah dari tauhid. Kemudian, lanjutkan dengan kewajiban lainnya secara bertahap.
Cinta Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz
Di samping ilmunya, Mu’adz memiliki tempat khusus di hati Nabi ﷺ. Suatu hari, beliau menggandeng tangannya dan memberi sebuah wasiat.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ: يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ memegang tangannya lalu bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu.” Beliau melanjutkan, “Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan di akhir setiap shalat untuk membaca: Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Jadi, ilmu yang tinggi tetap membutuhkan pertolongan Allah ﷻ. Karena itu, Mu’adz selalu memohon taufik dalam ibadahnya.
Pelajaran untuk Pemuda Masa Kini
Belajar Halal dan Haram Sejak Dini
Pertama, pelajari hukum dalam urusan harian kita. Sebab, ilmu yang benar menjauhkan kita dari dosa tanpa sadar.
Berhati-hati dalam Berfatwa
Kedua, jangan terburu-buru menghalalkan atau mengharamkan sesuatu. Selanjutnya, tanyakan kepada ulama yang terpercaya.
Dekat dengan Allah ﷻ Lewat Doa
Terakhir, rutinkan doa setelah shalat seperti wasiat Nabi ﷺ. Dengan begitu, ilmu dan amal berjalan seimbang.
Penutup
Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه wafat pada tahun 18 H karena wabah tha’un Amwas. Meski wafat di usia muda, jejak ilmunya terus hidup. Semoga Allah ﷻ menjadikan pemuda kita alim, amanah, dan teguh di atas kebenaran.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


