Bijak dalam Menghadapi Perbedaan

Perbedaan adalah hal yang biasa dalam hidup. Kita berbeda pendapat dengan teman, kakak kelas, bahkan sesama penuntut ilmu. Di media sosial, perbedaan sering berubah menjadi debat panas. Padahal, Islam mengajarkan cara yang lebih indah dan lebih tenang. Pemuda muslim perlu tahu kapan harus bertoleransi dan kapan harus tegas.

Perbedaan Itu Pasti Ada

Manusia diciptakan dengan akal, latar belakang, dan tingkat ilmu yang berbeda. Karena itu, perbedaan pendapat pasti muncul. Namun, tidak semua perbedaan sama hukumnya. Di sinilah pemuda perlu bijak dalam membedakan.

Dua Jenis Perbedaan

Perbedaan dalam Pokok Agama

Pertama, ada perbedaan dalam perkara yang dalilnya sudah jelas, seperti tauhid, kesyirikan, bid’ah, dan sunnah. Perbedaan jenis ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kita menjelaskannya dengan dalil, dengan lembut, dan dengan penuh hikmah. Selain itu, kita tetap menjaga adab agar tidak menyakiti orang yang kita nasihati.

Perbedaan dalam Masalah Ijtihad

Kedua, ada perbedaan dalam masalah yang dalilnya memuat beberapa kemungkinan makna. Para ulama yang berilmu bisa berbeda dalam memahaminya. Dalam hal ini, kita tidak perlu saling menyalahkan. Sebaliknya, kita berlapang dada dan tetap menghormati.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Allah ﷻ telah memberi rumus yang jelas ketika terjadi perselisihan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. (QS. An-Nisa’: 59)

Jadi, ukuran kebenaran bukan siapa yang paling pandai bicara atau paling banyak pengikutnya. Ukurannya adalah dalil. Dengan demikian, kita tidak menjadikan perasaan dan selera sebagai hakim.

Teladan Para Sahabat dalam Berbeda Pendapat

Para sahabat juga pernah berbeda dalam memahami perintah Nabi ﷺ. Meski begitu, mereka tetap rukun.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ يَوْمَ الْأَحْزَابِ: لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ، فَأَدْرَكَ بَعْضَهُمُ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ نُصَلِّي، لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda pada hari Ahzab, “Janganlah seorang pun shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Waktu Ashar pun tiba bagi sebagian mereka di tengah jalan. Sebagian berkata, “Kami tidak shalat sampai tiba di sana.” Sebagian lain berkata, “Kami shalat saja, bukan itu yang beliau inginkan dari kami.” Kejadian itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka. (HR. Bukhari no. 946, Muslim no. 1770)

Dari kisah ini, kita belajar bahwa perbedaan dalam memahami dalil bisa terjadi di kalangan orang-orang yang ikhlas. Selain itu, Nabi ﷺ tidak mencela salah satu pihak. Maka, kita pun tidak pantas cepat menghakimi saudara kita dalam masalah ijtihad.

Tetap Bersaudara Meski Berbeda

Allah ﷻ menegaskan bahwa iman mengikat hati kita.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10)

Perbedaan pendapat tidak boleh merusak persaudaraan. Sebab, ukhuwah lebih berharga daripada kemenangan dalam sebuah debat.

Jauhi Debat Kusir

Sering kali, kita merasa benar lalu ingin menang. Nabi ﷺ justru mengajarkan sikap yang berbeda.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Dari Abu Umamah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia benar. Aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda. Aku menjamin sebuah rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud no. 4800, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Tentu saja, hadits ini bukan larangan menjelaskan kebenaran. Yang dilarang adalah debat yang tidak berujung dan hanya mencari kemenangan.

Sampaikan dengan Lembut

Selanjutnya, kelembutan adalah perhiasan dalam setiap nasihat.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali memburukkannya.” (HR. Muslim no. 2594)

Dengan kelembutan, nasihat lebih mudah diterima. Sebaliknya, kata-kata kasar membuat orang menjauh sebelum mendengar dalil kita.

Langkah Praktis bagi Pemuda

Berikut beberapa langkah yang bisa langsung dipraktikkan.

Pelajari Ilmunya Dahulu

Jangan terburu-buru menyalahkan. Pahami dulu dalil dan penjelasan ulama sebelum berkomentar.

Tanyakan kepada Ahli Ilmu

Ketika bingung, bertanyalah kepada guru yang terpercaya. Dengan cara ini, kita terhindar dari kesimpulan yang tergesa-gesa.

Jaga Lisan dan Jari di Media Sosial

Satu komentar kasar bisa melukai banyak hati. Oleh sebab itu, pikirkan dahulu sebelum mengetik.

Tegas pada Prinsip, Lapang pada Ijtihad

Tetaplah teguh pada tauhid dan sunnah. Sementara itu, berlapang dadalah dalam perkara yang memang ada ruang ijtihad.

Penutup

Bijak dalam menghadapi perbedaan berarti mengetahui perkara mana yang harus ditegakkan dan perkara mana yang boleh dilapangkan. Kembali kepada dalil, meneladani para sahabat, menjaga lisan, serta berlaku lembut adalah kuncinya. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita pemuda yang berilmu, beradab, dan menyatukan hati kaum muslimin.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan