Pemuda hidup di zaman yang serba cepat. Informasi agama mengalir setiap hari lewat media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi itu benar dan lurus. Karena itu, pemuda membutuhkan pegangan yang jelas agar tidak tersesat. Pegangan itu adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat.
Mengapa Pemuda Perlu Pegangan yang Jelas
Banyak anak muda bersemangat belajar agama. Namun, semangat saja tidak cukup. Tanpa bimbingan yang benar, semangat bisa berubah menjadi sikap ekstrem atau sebaliknya, menjadi sikap meremehkan agama.
Oleh sebab itu, setiap pemuda perlu bertanya: bagaimana para sahabat memahami ayat dan hadits ini? Pertanyaan sederhana ini menjaga kita dari tafsir yang menyimpang.
Para Sahabat Adalah Generasi Terbaik
Rasulullah ﷺ sendiri memuji generasi para sahabat. Beliau menyebut mereka sebagai manusia terbaik.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533)
Generasi pertama inilah yang menyaksikan turunnya wahyu. Selain itu, mereka belajar langsung dari Nabi ﷺ.
Allah ﷻ Ridha kepada Para Sahabat
Allah ﷻ tidak hanya memuji, tetapi juga menyatakan keridhaan-Nya kepada mereka.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)
Perhatikan frasa “mengikuti mereka dengan baik”. Ayat ini menunjukkan bahwa jalan menuju keridhaan Allah ﷻ adalah mengikuti para sahabat dengan baik.
Allah ﷻ juga menjadikan keimanan para sahabat sebagai tolok ukur petunjuk.
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 137)
Jalan yang Selamat di Tengah Perpecahan
Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa umat ini akan terpecah. Beliau juga menjelaskan siapa yang selamat.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Jawaban Nabi ﷺ sangat jelas. Golongan yang selamat adalah mereka yang mengikuti jalan beliau dan jalan para sahabatnya. Dengan demikian, mengaku cinta Sunnah belum cukup. Kita juga harus memahaminya sebagaimana para sahabat memahaminya.
Allah ﷻ pun memberi peringatan keras bagi yang menempuh jalan lain.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa menentang Rasul setelah petunjuk itu jelas baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)
Wasiat Nabi ﷺ ketika Terjadi Perselisihan
Para sahabat pernah meminta wasiat saat Nabi ﷺ menasihati mereka. Wasiat itu menjadi bekal kita hingga hari ini.
عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا. قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Dari Al-Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ menasihati kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata mengalir. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat, meskipun yang memimpin adalah seorang budak Habasyah. Sesungguhnya siapa yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Jadi, ketika perselisihan muncul, Nabi ﷺ tidak menyuruh kita mengikuti selera atau tren. Beliau menyuruh kita kembali kepada Sunnah dan jalan para sahabat.
Mengapa Harus Pemahaman Sahabat?
Sebagian pemuda bertanya, “Bukankah Al-Qur’an dan hadits sudah cukup?” Pertanyaan ini wajar. Meski demikian, jawabannya jelas: Al-Qur’an dan hadits memang cukup, tetapi harus dipahami dengan benar.
Mereka Menyaksikan Turunnya Wahyu
Para sahabat hidup bersama Nabi ﷺ. Mereka mengetahui sebab turunnya ayat dan keadaan ketika hadits disabdakan. Karena itu, pemahaman mereka paling dekat dengan maksud wahyu.
Mereka Menguasai Bahasa Al-Qur’an
Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, yaitu bahasa para sahabat sehari-hari. Dengan demikian, mereka lebih paham makna kata dan gaya bahasanya dibandingkan generasi setelahnya.
Mereka Paling Takut Menyimpang
Para sahabat belajar untuk diamalkan, bukan untuk berdebat. Ilmu mereka menjadi amal, dan amal mereka menjadi teladan. Maka hati mereka paling bersih dan sikap mereka paling lurus.
Adab terhadap Para Sahabat
Mengikuti sahabat berarti juga menghormati mereka. Nabi ﷺ melarang kita mencela mereka.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2541)
Langkah Praktis bagi Pemuda
Mengikuti pemahaman sahabat bukan sekadar teori. Berikut beberapa langkah yang bisa dimulai sekarang.
Belajar kepada Ulama yang Berpegang pada Jalan Sahabat
Pilihlah guru yang ilmunya bersambung dan akhlaknya baik. Dengan begitu, kita tidak belajar agama dari sumber yang sembarangan.
Utamakan Dalil dan Penjelasan Ulama Salaf
Saat mendapat pertanyaan agama, periksa dahulu dalilnya. Selanjutnya, lihat bagaimana para sahabat dan ulama setelah mereka memahaminya.
Hindari Sikap Fanatik dan Merendahkan Orang Lain
Menyampaikan kebenaran harus dengan lembut dan hikmah. Sebab, tujuan kita adalah menunjukkan jalan, bukan menyakiti hati.
Rutin Membaca Kisah dan Akhlak Para Sahabat
Kisah mereka menumbuhkan semangat dan keteladanan. Selain itu, kisah tersebut mengajarkan cara mengamalkan agama dalam kehidupan nyata.
Penutup
Para sahabat adalah generasi terbaik yang Allah ﷻ ridhai. Nabi ﷺ pun menunjuk jalan mereka sebagai jalan yang selamat. Oleh karena itu, setiap pemuda muslim hendaknya mengikuti pemahaman mereka dengan penuh adab dan kelembutan. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


