Mendirikan shalat merupakan kewajiban utama yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim sehari-hari. Namun, agar ibadah agung ini diterima di sisi Allah ﷻ, kita wajib mempraktikkan tata cara yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, mempelajari praktik sifat shalat Nabi secara terperinci menjadi hal yang sangat penting bagi kita semua.
Perintah Mengikuti Tata Cara Shalat Rasulullah ﷺ
Islam menuntut setiap pemuda muslim untuk beribadah di atas landasan dalil yang sahih. Kita tidak boleh meniru gerakan shalat secara sembarangan tanpa merujuk pada tuntunan Sunnah. Sebaliknya, kita wajib menyelaraskan seluruh gerakan dari takbiratul ihram hingga salam persis seperti yang beliau ajarkan.
Rasulullah ﷺ memberikan perintah yang sangat tegas mengenai hal ini melalui sabdanya:
Malik bin Al-Huwairith رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadits di atas, kita memahami bahwa meneladani gerakan Nabi ﷺ merupakan syarat kesempurnaan ibadah. Ketika seseorang mempraktikkan shalat sesuai petunjuk beliau, maka jiwanya akan merasakan ketenangan yang sejati. Maka dari itu, mari kita perhatikan setiap urutan gerakan dalam shalat kita.
Rincian Gerakan Shalat dari Takbir Hingga Salam
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ memberikan teladan fisik yang sangat jelas pada setiap rukun shalat. Beliau mengawali shalat dengan berdiri tegak menghadap kiblat, berniat di dalam hati, lalu mengangkat kedua tangan seraya menguncapkan takbir. Kemudian, beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada serta membaca doa istiftah dan Al-Fatihah.
Abu Hurairah رضي الله عنه menceritakan gambaran shalat Nabi ﷺ secara ringkas:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ثُمَّ يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
Adalah Rasulullah ﷺ apabila berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’, lalu mengucapkan Sami’allahu liman hamidat (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ketika mengangkat tulang punggungnya dari ruku’, kemudian beliau mengucapkan dalam keadaan berdiri: Rabbana wa lakal hamd (Wahai Rabb kami, dan bagi-Mu lah segala pujian). (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, beliau meluruskan punggung saat ruku’ dan melakukan tuma’ninah di setiap gerakan. Begitu pula saat sujud, beliau menempelkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari-jemari kaki ke lantai. Setelah menyelesaikan tasyahud akhir, beliau mengakhiri shalatnya dengan menoleh ke kanan dan ke kiri seraya mengucapkan salam.
Pentingnya Tuma’ninah dalam Setiap Rukun
Sementara itu, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah melakukan gerakan shalat dengan sangat tergesa-gesa. Padahal, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tuma’ninah atau tenang sejenak dalam setiap rukun merupakan rukun shalat yang wajib terpenuhi. Tanpa adanya tuma’ninah, maka shalat yang kita kerjakan dianggap tidak sah dan harus diulangi.
Kesimpulannya, marilah kita terus mengevaluasi dan memperbaiki praktik sifat shalat Nabi dalam kehidupan harian kita. Langkah nyata ini akan menjaga kemurnian ibadah kita dari berbagai kesalahan yang dapat menggugurkan pahala. Semoga Allah ﷻ senantiasa menerima seluruh rangkaian ibadah shalat yang kita dirikan.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

