Adab Memberi

Menjaga Kehormatan Sesama saat Berbagi

Memberikan bantuan kepada sesama merupakan amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, kebaikan materi yang kita berikan bisa kehilangan nilainya jika kita tidak memperhatikan etika dan kaidah syariat. Oleh karena itu, kita harus memahami adab memberi agar bantuan yang kita salurkan tetap mendatangkan pahala yang murni di sisi Allah ﷻ.

Larangan Mengungkit Pemberian dan Menyakiti Perasaan

Salah satu adab paling mendasar saat bersedekah adalah menjaga lisan dan sikap agar tidak merendahkan orang yang menerima bantuan. Mengungkit-ungkit kebaikan (mann) atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati (adza) dapat menghanguskan pahala amal saleh yang telah kita kerjakan. Maka dari itu, seorang mukmin harus selalu bersikap rendah hati saat mengulurkan tangannya.

Selanjutnya, Allah ﷻ memberikan peringatan tegas di dalam Al-Qur’an mengenai bahaya merusak pahala sedekah. Allah ﷻ berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) (Al-Baqarah: 264).

Melalui ayat yang agung ini, kita memperoleh pelajaran berharga bahwa perasaan penerima bantuan harus kita jaga dengan penuh rasa hormat. Dengan demikian, gerakan pemuda peduli wajib mengedepankan kesantunan agar setiap aksi sosial benar-benar memuliakan kaum dhuafa.

Kriteria Orang yang Berhak Mendapat Keridaan Allah ﷻ

Islam mengajarkan bahwa pemberian yang paling utama adalah pemberian yang keluar dari niat yang murni tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih dari manusia. Ketika kita memberi, kita sebenarnya sedang bertransaksi langsung dengan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, ridha Allah ﷻ harus menjadi satu-satunya tujuan dalam setiap bantuan sosial kita.

Di samping itu, Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa Allah ﷻ sangat mencintai hamba-Nya yang bersedekah secara tersembunyi demi menjaga keikhlasan hati. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda tentang salah satu golongan yang mendapat naungan Allah ﷻ pada hari kiamat:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

Dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya (HR. Bukhari nomor 1423 dan Muslim nomor 1031).

Oleh karena itu, hadits ini menjadi panduan moral yang sangat penting bagi para relawan kemanusiaan. Sebisa mungkin, kita harus menyembunyikan kebaikan kita agar terhindar dari penyakit riya dan menjaga kehormatan saudara kita yang sedang membutuhkan.

Praktik Santun saat Menyampaikan Bantuan

Lantas, bagaimana para pemuda dapat menerapkan adab memberi ini dalam aksi nyata di lapangan? Langkah pertama adalah dengan menyerahkan bantuan menggunakan tangan kanan disertai senyuman yang tulus dan wajah yang ramah. Selain itu, kita harus menata niat bahwa penerima bantuan justru telah membantu kita untuk menabung pahala di akhirat.

Kemudian, kita juga harus sangat hati-hati dalam mengabadikan foto atau video dokumentasi aksi sosial. Jangan sampai dokumentasi tersebut menampilkan wajah penerima manfaat secara menyolok sehingga mempermalukan mereka di media sosial. Penerapan adab yang benar ini akan melahirkan gerakan filantropi yang penuh dengan keberkahan dan kehangatan persaudaraan.

Sebagai penutup, mari kita perbaiki cara kita dalam berbagi kepada sesama hamba Allah ﷻ. Berikanlah harta terbaik yang kita miliki dengan penuh kelembutan hati dan penghormatan. Oleh karena itu, mari kita terus menebar manfaat di jalan dakwah ini dengan selalu menjaga adab-adab Islam yang mulia.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan