Aktivitas dakwah merupakan tugas mulia yang tidak hanya menjadi tanggung jawab para ulama, tetapi juga setiap pemuda muslim. Namun, tantangan terbesar bagi seorang pemuda saat menyebarkan kebaikan adalah menjaga kemurnian niat di dalam hatinya. Oleh karena itu, sifat ikhlas menjadi pondasi utama agar setiap tetes keringat dalam berdakwah membuahkan pahala di sisi Allah ﷻ.
Ikhlas Sebagai Syarat Diterimanya Amal
Keikhlasan adalah kunci pembuka pintu langit bagi setiap amalan yang seorang hamba kerjakan, termasuk dalam urusan dakwah. Tanpa rasa ikhlas, segala bentuk publikasi atau konten dakwah yang pemuda buat akan menjadi sia-sia tanpa makna. Allah ﷻ menegaskan kewajiban untuk memurnikan agama hanya bagi-Nya dalam firman-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (QS. Al-Bayyinah: 5).
Jadi, pemuda harus selalu memeriksa kembali tujuannya saat membagikan pesan-pesan Islam kepada orang lain. Maka dari itu, tujuan utama kita adalah mengharap ridha Allah ﷻ, bukan mengharapkan jumlah pengikut atau pujian dari sesama manusia. Tentunya, niat yang tulus akan membuat dakwah terasa lebih ringan meskipun banyak rintangan yang menghadang.
Bahaya Riya Bagi Pengemban Dakwah
Selanjutnya, pemuda perlu mewaspadai penyakit hati yang seringkali muncul secara halus, yaitu rasa ingin dipuji atau riya. Sebab, Rasulullah ﷺ sangat mengkhawatirkan fitnah ini menimpa umatnya karena sifatnya yang sangat tersembunyi. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan melalui hadits dari sahabat Mahmud bin Labid رضي الله عنه:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya” (HR. Ahmad, Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami’ no. 1555).
Oleh sebab itu, pemuda Qur’ani harus melatih diri untuk tetap istiqomah berdakwah baik saat berada dalam keramaian maupun saat sendirian. Maka, jangan sampai pujian manusia membuat kita sombong dan jangan pula cercaan mereka membuat kita berhenti berbuat baik. Jadi, fokuslah pada penilaian Allah ﷻ semata agar hati tetap tenang dan terjaga dari kesyirikan.
Mewujudkan Dakwah yang Berkah
Terakhir, kemurnian niat dalam berdakwah akan melahirkan keberkahan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas secara berkelanjutan. Kita bisa belajar menjaga keikhlasan ini dengan rajin menuntut ilmu di Pesantren MAQI bersama para asatidzah yang bertaqwa. Selain itu, mendukung gerakan MAQI Peduli bisa menjadi sarana berdakwah melalui tindakan nyata tanpa harus menonjolkan diri sendiri.
Sebab, dakwah yang berasal dari hati yang ikhlas akan lebih mudah menyentuh hati orang yang mendengarkannya. Mari kita senantiasa memohon pertolongan Allah ﷻ agar Dia menjauhkan hati kita dari penyakit pamer dan haus akan popularitas. Semoga setiap aktivitas dakwah kita di atas manhaj Salafus Sholeh menjadi pemberat timbangan kebaikan kita di hari kiamat kelak.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


