Memasuki hari ke-20 Ramadan, seorang Muslim seharusnya tidak merasa jenuh atau mengendurkan semangat ibadahnya. Sebaliknya, momen ini merupakan gerbang menuju puncak kemuliaan bulan suci yang Allah ﷻ siapkan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Kita perlu melakukan persiapan matang secara fisik maupun mental agar tidak kehilangan kesempatan meraih pahala yang sangat besar.
Meneladani Kesungguhan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ memberikan contoh yang sangat luar biasa dalam menghadapi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Beliau ﷺ meningkatkan intensitas ibadah jauh melebihi hari-hari sebelumnya dengan penuh keseriusan. Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau menceritakan kebiasaan Nabi ﷺ:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya (Hadits Riwayat Bukhari nomor 2024 dan Muslim nomor 1174).
Ungkapan “mengencangkan ikat pinggang” menunjukkan betapa beliau ﷺ fokus sepenuhnya pada penghambaan dan menjauhi urusan duniawi sementara waktu. Oleh karena itu, kita sebaiknya mengurangi kesibukan yang tidak mendesak agar bisa memaksimalkan malam-malam ganjil. Selanjutnya, melibatkan keluarga dalam ketaatan akan menambah keberkahan di dalam rumah tangga kita selama fase krusial ini.
Memburu Kemuliaan Lailatul Qadr
Alasan utama mengapa kita harus bersiap dengan sangat serius adalah adanya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah ﷻ menyembunyikan waktu pastinya agar hamba-Nya terus berupaya maksimal di setiap malam terakhir. Allah ﷻ menjelaskan keagungan malam tersebut dalam firman-Nya:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (Al-Qadr: 3).
Satu kali beramal pada malam itu memiliki nilai yang lebih utama daripada beramal selama delapan puluh tiga tahun lamanya. Maka, persiapan mental sangat kita butuhkan agar kita tidak merasa lelah dalam menjalankan shalat malam dan tilawah Al-Qur’an. Selain itu, keikhlasan niat menjadi kunci agar setiap amalan kita mendapatkan penilaian istimewa di sisi Allah ﷻ.
Langkah Praktis Memulai Persiapan
Supaya kita bisa menjemput sepuluh malam terakhir dengan optimal, silakan terapkan beberapa langkah nyata berikut ini:
-
Selesaikan Urusan Dunia: Usahakan urusan pekerjaan atau belanja kebutuhan lebaran selesai sebelum malam ke-21 tiba.
-
Jaga Kesehatan Fisik: Atur pola makan saat berbuka dan sahur agar tubuh tetap bugar untuk melakukan qiyamul lail.
-
Siapkan Daftar Doa: Tuliskan keinginan-keinginan terbesar Anda agar saat berdoa di waktu mustajab, Anda tetap fokus dan terarah.
-
Niatkan I’tikaf: Jika memungkinkan, rencanakan untuk berdiam diri di masjid sesuai dengan kemampuan waktu yang ada.
Dengan melakukan persiapan sejak dini, kita sedang menunjukkan kerinduan yang besar kepada ampunan Allah ﷻ. Akhirnya, semoga Allah ﷻ mempertemukan kita dengan Lailatul Qadr dalam keadaan iman yang paling kuat. Kita berharap seluruh dosa-dosa masa lalu terhapus dan kita keluar sebagai pemenang di madrasah takwa ini.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

