Mendidik Anak Berhemat Secara Islami

Membangun kemandirian finansial keluarga harus kita mulai sejak dini dari lingkungan rumah tangga. Anak-anak merupakan peniru yang sangat ulung, sehingga orang tua perlu memberikan teladan nyata dalam mengelola rezeki. Mengajarkan anak cara berhemat bukan berarti mendidik mereka menjadi pelit, melainkan melatih mereka untuk bijak dalam menggunakan nikmat Allah ﷻ.

Menanamkan Kesederhanaan sebagai Karakter

Langkah pertama dalam mendidik buah hati adalah memperkenalkan mereka pada gaya hidup yang tidak berlebihan. Islam sangat memuji hamba-hamba-Nya yang mampu bersikap pertengahan, yaitu tidak kikir namun juga tidak boros. Allah ﷻ menyebutkan ciri hamba yang beriman dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya adalah pertengahan. (QS. Al-Furqan: 67)

Melalui pemahaman ayat ini, kita dapat mengajarkan anak bahwa setiap uang yang mereka miliki memiliki amanah di dalamnya. Oleh sebab itu, orang tua harus membiasakan anak untuk hanya membeli barang yang benar-benar mereka butuhkan.

Melatih Anak Menabung dan Berbagi

Selanjutnya, orang tua bisa melatih anak untuk menyisihkan sebagian uang saku mereka setiap hari. Menabung merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk mempersiapkan masa depan dan menghadapi keadaan darurat. Rasulullah ﷺ memberikan arahan yang sangat berharga mengenai pentingnya menyimpan sebagian harta untuk kepentingan keluarga.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Sedekah yang paling baik adalah dari harta yang sudah tercukupi kebutuhannya, dan mulailah pemberian itu dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu. (HR. Bukhari)

Berdasarkan petunjuk tersebut, kita dapat mengarahkan anak agar pandai menata skala prioritas. Akhirnya, mereka akan memahami bahwa harta tidak boleh habis seketika hanya untuk kesenangan sesaat.

Mengajarkan Tanggung Jawab atas Nikmat

Selain menabung, sangat penting bagi kita untuk menjelaskan kepada anak bahwa kelak semua harta akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini akan membuat anak lebih berhati-hati dan tidak mudah merengek meminta barang yang sia-sia. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi pertanyaan tentang pengelolaan hartanya.

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Tuhannya hingga ia ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, serta tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya. (HR. Tirmidzi No. 2416, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih al-Jami’ No. 7299)

Oleh karena itu, pendidikan berhemat merupakan bagian dari pendidikan iman bagi sang anak. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bersyukur dan lebih menghargai setiap pemberian dari orang tua mereka.

Kesimpulan

Jadi, mulailah memberikan edukasi keuangan yang sehat kepada buah hati Anda mulai hari ini melalui contoh yang konkret. Kebiasaan berhemat akan melindungi anak-anak kita dari sifat konsumtif dan serakah di masa dewasa kelak. Mari kita bentuk generasi yang tangguh secara finansial dan tetap memegang teguh nilai-nilai syariah dalam kehidupannya.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan