Bahaya Sikap Israf dalam Keuangan Keluarga

Mengelola keuangan keluarga sering kali menjadi tantangan berat di tengah gaya hidup konsumtif zaman sekarang. Banyak orang terjebak dalam perilaku berlebih-lebihan atau israf hanya demi mengejar gengsi semata. Padahal, Islam sangat melarang tindakan membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat nyata.

Mengenal Makna Israf dan Larangannya

Secara istilah, israf berarti melampaui batas dalam menggunakan harta, baik untuk hal yang mubah maupun maksiat. Allah ﷻ sangat mencintai kesederhanaan dan membenci sikap boros yang merugikan diri sendiri. Hal ini tertuang jelas dalam firman-Nya:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31)

Melalui ayat tersebut, kita memahami bahwa kenikmatan duniawi tetap memiliki batasan yang harus dipatuhi. Oleh karena itu, seorang muslim perlu mempertimbangkan asas manfaat sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu.

Dampak Buruk Sikap Berlebih-lebihan

Selanjutnya, sikap israf sering kali menjadi pintu masuk bagi kesulitan finansial yang berkepanjangan. Orang yang terbiasa hidup boros biasanya sulit membedakan antara kebutuhan mendesak dan keinginan sesaat. Akibatnya, mereka mudah terjerat hutang hanya untuk mempertahankan standar hidup yang melampaui kemampuan.

Rasulullah ﷺ memberikan batasan yang sangat indah dalam urusan konsumsi harian. Dari sahabat ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah selama tidak disertai sikap berlebih-lebihan dan kesombongan. (HR. An-Nasa’i No. 2559, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa niat di balik sebuah pembelian sangat menentukan nilai keberkahannya. Maka, hindarilah memamerkan kekayaan melalui barang-barang mewah jika tujuannya hanya untuk membanggakan diri.

Cara Menghindari Israf di Rumah Tangga

Lalu, bagaimana cara kita mempraktikkan hidup hemat tanpa merasa kekurangan sedikit pun? Langkah pertama adalah dengan membudayakan sikap syukur atas setiap rezeki yang telah Allah ﷻ berikan. Syukur akan mendatangkan rasa cukup sehingga keinginan untuk terus menambah barang yang tidak perlu akan berkurang.

Langkah berikutnya, susunlah skala prioritas dalam anggaran bulanan keluarga secara disiplin. Rasulullah ﷺ memuji hamba yang cerdas dalam mengelola hartanya agar tidak jatuh pada kemiskinan. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

Tidak akan jatuh miskin orang yang bersikap hemat. (HR. Ahmad, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih al-Jami’ No. 5564)

Akhirnya, dengan berhemat, kita memiliki peluang lebih besar untuk membantu sesama yang membutuhkan. Harta yang kita simpan dari perilaku boros dapat menjadi tabungan pahala yang abadi di akhirat kelak.

Kesimpulan

Jadi, berhentilah menghamburkan harta untuk perkara yang sia-sia demi menjaga keharmonisan ekonomi keluarga. Terapkanlah pola hidup sederhana agar keberkahan selalu meliputi rumah tangga Anda setiap hari. Ingatlah bahwa setiap rupiah yang kita belanjakan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan