Keberkahan Nafkah Bukan Kuantitas

Banyak orang merasa khawatir saat melihat angka di saldo rekening yang tidak kunjung bertambah secara signifikan. Padahal, standar kebahagiaan ekonomi dalam pandangan Islam bukan hanya terletak pada banyaknya jumlah harta. Kita sering kali melupakan satu faktor yang sangat menentukan kualitas hidup, yaitu keberkahan dari Allah ﷻ.

Memahami Hakikat Berkah dalam Rezeki

Secara bahasa, berkah berarti bertambah dan berkembangnya kebaikan pada sesuatu. Dalam konteks ekonomi keluarga, harta yang berkah akan menghadirkan ketenangan jiwa dan kecukupan meskipun secara hitungan matematika terlihat sedikit. Sebaliknya, harta yang melimpah namun tidak berkah justru sering kali mendatangkan keresahan atau musibah bagi pemiliknya.

Allah ﷻ berjanji akan memberikan keberkahan kepada penduduk suatu negeri yang beriman dan bertakwa. Hal ini tertuang jelas dalam firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A’raf: 96)

Oleh sebab itu, ketakwaan menjadi kunci utama agar rezeki yang sedikit menjadi luas manfaatnya. Dengan ketakwaan, seorang kepala keluarga akan selalu merasa cukup dengan pemberian Tuhan.

Qana’ah: Kekayaan Hati yang Sesungguhnya

Selanjutnya, kita perlu menyadari bahwa kekayaan yang hakiki bukan tentang tumpukan materi semata. Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran berharga mengenai konsep kecukupan yang sebenarnya. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Melalui hadits ini, kita memahami bahwa rasa cukup atau qana’ah adalah harta yang tidak akan pernah habis. Ketika hati merasa puas dengan yang halal, maka Allah ﷻ akan mencukupkan segala urusannya. Sebaliknya, rasa serakah akan membuat seseorang selalu merasa kekurangan meski sudah memiliki segalanya.

Mencari Nafkah dengan Cara yang Benar

Selain faktor niat, cara mendapatkan harta juga sangat memengaruhi keberkahan. Hakim bin Hizam رضي الله عنه pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberikan nasihat yang sangat mendalam terkait keberkahan:

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ

Sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati, maka akan diberikan berkah kepadanya. Namun, barangsiapa yang mengambilnya dengan ambisi yang berlebihan, maka tidak akan diberikan berkah padanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, sikap kita saat mencari materi sangat menentukan apakah harta tersebut akan membawa manfaat atau justru beban. Ambisi yang berlebihan sering kali menutup pintu keberkahan dalam rumah tangga. Akhirnya, waktu kita habis hanya untuk mengejar angka tanpa sempat menikmati kehangatan bersama keluarga.

Kesimpulan

Maka dari itu, mari kita lebih fokus mengejar keberkahan daripada sekadar mengejar kuantitas. Pastikan setiap rupiah yang masuk ke rumah tangga berasal dari sumber yang jelas kehalalannya. Dengan demikian, rezeki yang ada akan mencukupi seluruh kebutuhan dan mendatangkan kedamaian di dalam rumah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan