DanBanyak orang menganggap bekerja hanya sebatas rutinitas harian untuk mengisi rekening atau memenuhi kebutuhan dapur saja. Padahal, Islam memandang aktivitas mencari nafkah sebagai bentuk ibadah yang sangat mulia di hadapan Allah ﷻ. Oleh karena itu, saat seseorang meluruskan niatnya, setiap tetes keringat yang jatuh akan membuahkan pahala yang sangat besar.
Bekerja sebagai Perintah Agama
Islam bukanlah sebuah agama yang hanya menganjurkan umatnya untuk berdiam diri di dalam masjid sepanjang waktu. Sebaliknya, Allah ﷻ memerintahkan setiap muslim untuk menyebar di muka bumi guna mencari karunia-Nya setelah mereka menunaikan kewajiban shalat.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشَرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Selanjutnya, ayat tersebut menjelaskan bahwa mencari nafkah merupakan bagian penting dari upaya manusia dalam meraih keberuntungan di dunia maupun akhirat. Maka dari itu, kita tidak perlu merasa rendah dengan profesi apa pun selama pekerjaan tersebut bersifat halal.
Nafkah adalah Sedekah Paling Utama
Sering kali masyarakat merasa bahwa sedekah hanya berlaku saat mereka memberi bantuan kepada fakir miskin atau lembaga sosial. Namun, Rasulullah ﷺ justru menegaskan bahwa harta yang suami berikan kepada keluarga memiliki kedudukan yang sangat istimewa.
Dalam sebuah riwayat, Ka’ab bin ‘Ujrah رضي الله عنه menceritakan bahwa para sahabat pernah melihat seorang laki-laki yang bekerja dengan sangat giat. Kemudian, Rasulullah ﷺ bersabda untuk meluruskan pandangan mereka:
إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ
Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah Dan jika ia keluar untuk menafkahi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk menafkahi dirinya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia pun berada di jalan Allah. (HR. At-Thabrani, Shahih al-Jami’ No. 1428, Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)
Berangkat dari dalil tersebut, kita mendapatkan motivasi kuat bahwa setiap langkah menuju tempat kerja adalah langkah ibadah. Akhirnya, kelelahan setelah bekerja seharian akan menghapus dosa-dosa jika kita meniatkannya untuk menjaga kehormatan diri.
Keutamaan Memberi Nafkah kepada Keluarga
Selain merupakan kewajiban pokok, memberikan nafkah kepada istri dan anak adalah bentuk investasi akhirat yang sangat luar biasa nilainya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu; maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu. (HR. Muslim)
Oleh sebab itu, janganlah pernah merasa berat hati dalam memenuhi segala kebutuhan rumah tangga. Kesadaran akan besarnya pahala ini tentu membuat kita lebih ikhlas dalam menjalani setiap pekerjaan.
Kesimpulan
Maka, luruskanlah niat Anda sejak sebelum melangkah keluar rumah pagi ini. Jadikan seluruh aktivitas mencari materi sebagai sarana utama untuk meraih ridha Allah ﷻ semata. Dengan niat yang benar, pekerjaan yang berat akan terasa jauh lebih ringan dan hasilnya membawa keberkahan bagi seluruh anggota keluarga.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


