Kehidupan bermasyarakat sering kali memunculkan berbagai perbedaan pendapat yang memerlukan adanya keterbukaan hati. Islam sangat menjunjung tinggi budaya saling mengingatkan agar setiap individu tetap berada di jalan kebenaran. Namun, kita perlu memperhatikan adab yang baik saat menyampaikan kritik maupun ketika menerima nasihat dari orang lain. Tanpa adanya adab, teguran yang tujuannya baik justru dapat memicu permusuhan dan merusak jalinan ukhuwah Islamiyah yang telah kita bangun.
Etika Menyampaikan Kritik secara Santun
Seorang Muslim hendaknya menyampaikan kritik dengan niat tulus untuk memperbaiki keadaan, bukan untuk menjatuhkan kehormatan sesama. Selanjutnya, kita harus memilih waktu yang tepat serta menggunakan tutur kata yang lembut agar pesan tersebut mudah orang lain terima. Memberikan kritik secara tertutup atau empat mata jauh lebih utama daripada melakukannya di hadapan khalayak ramai. Dengan menjaga perasaan orang lain, kita sebenarnya sedang menunjukkan keluhuran budi pekerti kita sendiri.
Allah ﷻ memberikan pedoman berkomunikasi yang baik di dalam Al-Qur’an:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (QS. Thaha: 44).
Oleh sebab itu, jika kepada orang melampaui batas saja kita harus lemah lembut, maka kepada saudara sendiri tentu lebih utama.
Kelapangan Hati dalam Menerima Nasihat
Menerima masukan atau teguran memerlukan sifat rendah hati agar kita terhindar dari penyakit kesombongan. Kemudian, seorang mukmin sejati akan merasa bersyukur saat ada orang lain yang bersedia menunjukkan kekurangan dirinya demi kebaikan bersama. Kita tidak boleh menolak kebenaran hanya karena merasa lebih senior atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa menolak kebenaran merupakan salah satu tanda nyata dari sifat sombong dalam hati.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (HR. Muslim).
Selain itu, membiasakan diri untuk berterima kasih atas nasihat akan membuat hubungan sosial kita menjadi semakin harmonis dan penuh berkah.
Hikmah di Balik Saling Mengingatkan
Budaya saling menasihati yang berlandaskan adab akan menciptakan lingkungan masyarakat yang sangat sehat dan produktif. Selanjutnya, setiap individu akan merasa aman karena mereka memiliki saudara yang peduli terhadap keselamatan dunia dan akhiratnya. Akhirnya, kedamaian sejati akan terwujud saat setiap kritik tersampaikan dengan cinta dan setiap nasihat diterima dengan penuh syukur.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ
Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Sebagai penutup, marilah kita jadikan kritik dan nasihat sebagai sarana untuk terus memperbaiki kualitas diri kita masing-masing. Kemudian, buanglah rasa ego yang menghalangi kita untuk menerima kebenaran dari mana pun asalnya. Dengan demikian, kita dapat tumbuh menjadi umat yang kuat dan senantiasa berada dalam lindungan Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


