Menolong Tanpa Riya dan Pamer

Keikhlasan merupakan ruh dari setiap amal kebajikan yang seorang Muslim lakukan dalam kehidupan sosial. Islam mengajarkan bahwa nilai sebuah bantuan tidak hanya terletak pada besarnya nominal, tetapi pada ketulusan niat pelakunya. Oleh karena itu, kita harus menjaga hati agar tidak terjangkit penyakit riya atau pamer saat mengulurkan tangan kepada sesama. Tanpa adanya keikhlasan, perbuatan baik hanya akan menjadi lelah yang sia-sia tanpa membuahkan pahala di hadapan Allah ﷻ.

Bahaya Riya yang Menghapus Pahala

Sifat riya atau beramal demi mendapatkan pujian manusia merupakan syirik kecil yang sangat membahayakan kualitas iman. Selanjutnya, Allah ﷻ memberikan peringatan bahwa bantuan yang kita sertai dengan sikap pamer atau menyebut-nyebut pemberian tersebut dapat membatalkan pahala sedekah. Kita harus menyadari bahwa sanjungan manusia bersifat sementara, sedangkan rida Allah ﷻ bersifat abadi. Dengan menjaga kerahasiaan amal, kita sebenarnya sedang melindungi kesucian niat kita dari godaan setan.

Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 264).

Oleh sebab itu, marilah kita fokus mengejar balasan dari Sang Pencipta daripada sekadar mencari pengakuan dari makhluk.

Keutamaan Sedekah Secara Tersembunyi

Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya agar sebisa mungkin menyembunyikan amal kebaikan yang mereka lakukan. Kemudian, beliau memberikan gambaran indah mengenai orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Perilaku mulia ini mencerminkan tingginya tingkat ketakwaan serta rasa takut kepada Allah ﷻ. Dengan membiasakan diri menolong secara diam-diam, kita akan merasakan ketenangan batin yang jauh lebih mendalam.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan Allah ﷻ pada hari kiamat:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

Dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, bantuan yang tulus tanpa pamer akan lebih menjaga kehormatan serta perasaan orang yang kita bantu.

Meraih Keikhlasan dalam Berbuat Baik

Kita dapat melatih keikhlasan dengan cara selalu mengingat bahwa segala rizeki yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah ﷻ. Selanjutnya, tanamkan dalam pikiran bahwa hanya Allah ﷻ yang mampu memberikan balasan terbaik atas setiap kebaikan yang kita sebar. Akhirnya, kedamaian sejati akan terwujud saat setiap individu berlomba-lomba dalam kebaikan tanpa mengharapkan ucapan terima kasih.

Diriwayatkan dari sahabat Mahmud bin Labid رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya. (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

Sebagai penutup, jadikanlah setiap aksi sosial kita sebagai simpanan rahasia antara diri kita dengan Allah ﷻ. Kemudian, singkirkanlah keinginan untuk tampil di depan kamera atau media sosial saat memberikan santunan. Dengan demikian, kita dapat meraih kemurnian amal sekaligus memperkuat fondasi kepedulian sosial yang berkah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan