Empati merupakan ruh dalam interaksi sosial seorang Muslim. Ketika rasa peduli ini mulai luntur, maka masyarakat akan kehilangan keharmonisan serta kedamaian. Islam sangat mewaspadai fenomena hilangnya empati karena hal tersebut menjadi tanda rapuhnya keimanan seseorang. Hati yang membatu dan tidak lagi peka terhadap penderitaan sesama akan menjauhkan hamba dari rahmat Allah ﷻ.
Dampak Buruk Sifat Egois dan Acuh
Sikap acuh tak acuh terhadap kondisi orang lain merupakan bibit kehancuran ukhuwah. Apabila setiap individu hanya memikirkan kepentingan sendiri, maka pertolongan tidak akan lagi ditemukan di tengah masyarakat. Padahal, Rasulullah ﷺ mengibaratkan kaum mukminin seperti satu tubuh yang saling merasakan sakit.
Sahabat Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyantuni di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasa demam. (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, hilangnya rasa sakit saat melihat saudara menderita menandakan ada masalah besar dalam hati kita.
Ancaman bagi Pemilik Hati yang Keras
Hati yang keras dan tidak memiliki empati akan sulit menerima hidayah serta cahaya kebenaran. Islam mencela perilaku orang yang membiarkan tetangganya menderita kelaparan sementara ia hidup dalam kemewahan. Sifat ini sangat bertentangan dengan jati diri seorang Muslim yang seharusnya menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya.
Allah ﷻ berfirman mengenai kerasnya hati manusia yang enggan peduli:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. Al-Baqarah: 74).
Selain itu, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras bahwa ketidakpedulian bisa membatalkan kesempurnaan iman. Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan sabda beliau:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim).
Mencegah Kerusakan Sosial
Kehidupan bermasyarakat akan menjadi sangat kejam jika rasa empati telah musnah. Akibatnya, orang kaya akan menindas yang miskin dan yang kuat akan mengabaikan yang lemah. Oleh karena itu, kita harus terus memupuk rasa peduli agar terhindar dari murka Allah ﷻ.
Sebagai kesimpulan, mari kita jaga kelembutan hati dengan senantiasa membantu sesama. Selanjutnya, biasakan diri untuk melihat kesulitan orang lain sebagai ladang amal bagi kita. Dengan demikian, keberkahan hidup akan senantiasa menaungi masyarakat kita.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


