Rasulullah ﷺ bukan sekadar pemimpin agama dan negara, melainkan sosok yang memiliki kepekaan sosial luar biasa. Beliau adalah teladan nyata dalam merasakan penderitaan orang lain dan segera memberikan solusi. Empati beliau mencakup seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak yatim, janda, hingga fakir miskin.
Kelembutan Hati Sang Nabi
Sifat empati Rasulullah ﷺ berakar dari kasih sayang yang Allah ﷻ tanamkan dalam jiwa beliau. Beliau tidak pernah membiarkan seseorang yang datang meminta bantuan pulang dengan tangan hampa. Jika tidak memiliki harta untuk diberikan, beliau akan memberikan kata-kata yang menghibur dan menenangkan hati.
Allah ﷻ berfirman mengenai sifat lembut beliau:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (QS. Ali Imran: 159).
Kepedulian terhadap Kaum Lemah
Salah satu bukti empati sosial Rasulullah ﷺ adalah perhatian khusus beliau kepada para janda dan orang miskin. Beliau menyamakan orang yang berusaha membantu mereka dengan orang yang berjihad di jalan Allah ﷻ atau orang yang rajin beribadah di malam hari.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ
Orang yang membantu memenuhi kebutuhan para janda dan orang miskin, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang qiyamul lail (shalat malam) dan rajin berpuasa di siang hari. (HR. Bukhari dan Muslim).
Merasakan Kesulitan Umat
Empati beliau juga terlihat dari bagaimana beliau meringankan beban para sahabatnya. Beliau sangat memahami kondisi psikologis dan fisik umatnya. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه:
أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ
Aku lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Maka barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan hutang, maka akulah yang akan melunasinya. Dan barangsiapa yang meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak hanya berempati secara lisan, tetapi mengambil tanggung jawab finansial bagi umatnya yang kesulitan. Meneladani beliau berarti mengasah kepekaan kita untuk peduli dan berbagi dengan sesama.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


