Makna Empati dalam Islam

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain dari sudut pandang mereka. Dalam Islam, empati bukan sekadar konsep psikologi modern, melainkan bagian mendasar dari keimanan yang dikenal dengan istilah itishaf atau merasakan penderitaan sesama. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki hati yang lembut dan peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Rasulullah ﷺ sebagai Teladan Empati Tertinggi

Nabi Muhammad ﷺ adalah pribadi yang memiliki tingkat empati paling tinggi. Beliau senantiasa merasakan kesulitan yang menimpa umatnya dan sangat menginginkan keselamatan serta kebahagiaan bagi mereka. Sifat ini diabadikan oleh Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah: 128).

Perumpamaan Satu Tubuh dalam Persaudaraan

Empati dalam Islam diwujudkan dalam bentuk persaudaraan yang erat. Seorang Muslim diperintahkan untuk memandang Muslim lainnya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Jika ada satu anggota masyarakat yang tersakiti atau mengalami kesulitan, maka yang lain pun harus ikut merasakannya dan berusaha membantu.

Sahabat Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyantuni di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasa demam. (HR. Bukhari dan Muslim).

Empati sebagai Kunci Pertolongan Allah ﷻ

Islam memotivasi umatnya untuk terus mengasah empati karena tindakan nyata dari rasa empati tersebut akan mendatangkan bantuan dari Allah ﷻ. Ketika kita meluangkan waktu, tenaga, atau harta untuk meringankan beban orang lain, Allah ﷻ menjamin akan memudahkan urusan kita di dunia maupun di akhirat.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim).

Cara Menumbuhkan Empati dalam Keseharian

Menumbuhkan empati dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana namun bermakna, di antaranya:

  1. Mendengarkan keluh kesah orang lain dengan penuh perhatian tanpa menghakimi.

  2. Membayangkan diri sendiri berada di posisi orang yang sedang tertimpa musibah.

  3. Menjenguk orang sakit dan memberikan semangat.

  4. Memberikan bantuan kepada fakir miskin tanpa menunggu diminta.

Dengan menghidupkan rasa empati, seorang Muslim tidak hanya menjalankan kewajiban sosial, tetapi juga sedang memperindah akhlaknya menuju derajat ketakwaan yang lebih tinggi.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan