Manusia sebagai Makhluk Sosial

Allah ﷻ menciptakan manusia bukan untuk hidup dalam kesendirian. Sejak awal penciptaannya, manusia telah dibekali dengan naluri untuk berkumpul, berinteraksi, dan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam pandangan Islam, status manusia sebagai makhluk sosial merupakan sarana untuk menjalankan ketaatan dan menebar manfaat di muka bumi.

Fitrah Manusia untuk Saling Mengenal

Keberagaman latar belakang, suku, dan bangsa bukanlah alasan untuk terpecah belah. Sebaliknya, perbedaan tersebut diciptakan agar manusia bisa saling melengkapi. Islam memandang interaksi sosial sebagai ladang pahala melalui proses saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan.

Allah ﷻ menegaskan hakikat penciptaan manusia dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13).

Sinergi dan Persaudaraan Antarmanusia

Sebagai makhluk sosial, seorang Muslim ibarat satu bagian dari bangunan yang kokoh. Tanpa dukungan orang lain, kekuatan individu akan melemah. Islam mengajarkan bahwa bantuan kepada sesama adalah bentuk nyata dari pengabdian kepada Sang Pencipta.

Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang sebagiannya menguatkan bagian yang lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Keterikatan sosial ini menuntut kita untuk memiliki empati. Seorang manusia yang baik tidak akan membiarkan orang lain menderita sementara ia memiliki kemampuan untuk membantu. Hal ini menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang harmonis.

Keutamaan Menjadi Manusia yang Bermanfaat

Islam tidak hanya memerintahkan manusia untuk bersosialisasi, tetapi juga menekankan kualitas dari interaksi tersebut. Puncak dari peran manusia sebagai makhluk sosial adalah sejauh mana keberadaannya memberikan dampak positif bagi lingkungannya.

Sahabat Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. At-Thabrani, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’).

Menjadi makhluk sosial yang baik dalam Islam berarti menjaga adab dalam bergaul, menepati janji, jujur dalam bertransaksi, serta memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Dengan demikian, hubungan sosial tidak hanya memberikan keuntungan duniawi, tetapi juga menjadi jalan menuju keridhaan Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan