Keimanan dalam Islam bukanlah sekadar pengakuan di lisan atau keyakinan di dalam hati semata. Iman yang sejati adalah iman yang meresap ke dalam jiwa dan memancar keluar melalui perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, akhlak mulia merupakan barometer atau alat ukur yang paling nyata untuk melihat kualitas iman seseorang kepada Allah ﷻ.
Hubungan Erat antara Iman dan Perilaku
Islam menempatkan akhlak pada kedudukan yang sangat tinggi. Seseorang tidak dikatakan memiliki iman yang sempurna jika ia masih memiliki perangai yang buruk, suka menyakiti orang lain, atau tidak jujur. Setiap cabang keimanan selalu memiliki kaitan erat dengan bagaimana seseorang bersikap terhadap sesama makhluk.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّريقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan Laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu adalah salah satu cabang dari iman. (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhlak Baik Menentukan Kesempurnaan Iman
Jika kita ingin mengetahui seberapa kuat iman kita, lihatlah bagaimana cara kita memperlakukan orang lain. Rasulullah ﷺ memberikan penegasan bahwa orang mukmin yang paling sempurna adalah mereka yang memiliki karakter dan perilaku yang paling baik.
Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Hadits di atas memberikan pelajaran penting bahwa ketaatan ritual seperti shalat dan puasa seharusnya melahirkan sifat santun, rendah hati, dan jujur. Tanpa perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, iman seseorang patut dipertanyakan kedalamannya.
Menjaga Hubungan dengan Allah dan Manusia
Seseorang yang beriman secara benar akan berusaha menyeimbangkan hak Allah ﷻ dan hak sesama manusia. Ia tidak hanya rajin beribadah di masjid, tetapi juga menjadi orang yang paling dipercaya dan paling memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin. (QS. Al-Baqarah: 177).
Ayat ini menjelaskan bahwa kebajikan atau kesalehan yang sesungguhnya mencakup keimanan yang kokoh dan aksi nyata dalam membantu sesama manusia. Dengan demikian, akhlak mulia bukan sekadar hiasan diri, melainkan bukti otentik bahwa cahaya iman telah benar-benar bersemi di dalam hati seorang Muslim.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


