Menjaga Niat dalam Beramal

Pendahuluan

Niat adalah ruh dari setiap amal. Baik atau buruknya sebuah perbuatan di sisi Allah ﷻ bergantung pada niat yang melandasinya. Amalan yang tampak besar dapat menjadi sia-sia bila niatnya keliru, sementara amal yang kecil bisa bernilai agung jika dilakukan dengan ikhlas. Karena itu, menjaga niat adalah kunci diterimanya amal dan keselamatan seorang hamba.

Niat sebagai Penentu Nilai Amal

Rasulullah ﷺ meletakkan kaidah agung tentang niat yang menjadi dasar seluruh ibadah. Dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa niat adalah penentu utama nilai amal di sisi Allah ﷻ.

Ikhlas: Inti dari Niat yang Benar

Menjaga niat berarti menjaga keikhlasan. Ikhlas adalah memurnikan tujuan amal hanya untuk Allah ﷻ tanpa mengharapkan pujian atau balasan manusia. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa keikhlasan adalah syarat diterimanya ibadah.

Bahaya Rusaknya Niat

Niat dapat rusak oleh riya’, sum’ah, dan keinginan duniawi. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras tentang amal yang tidak ikhlas. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan pertama yang diadili pada hari kiamat, di antaranya orang yang bersedekah agar dipuji manusia, lalu Allah ﷻ berfirman bahwa amal itu dilakukan bukan karena-Nya. (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa amal yang lahirnya baik bisa berujung penyesalan bila niatnya tidak dijaga.

Menjaga Niat dalam Amal Sosial dan Ibadah

1. Meluruskan Niat Sejak Awal

Sebelum beramal, hadirkan niat bahwa semua dilakukan semata-mata karena Allah ﷻ.

2. Menghindari Pujian dan Sorotan

Tidak mencari popularitas atau pengakuan manusia dalam beramal.

3. Mengoreksi Niat di Tengah Amal

Jika muncul bisikan riya’, segera kembalikan niat kepada Allah ﷻ.

4. Menyembunyikan Amal Bila Mampu

Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan.

Allah ﷻ berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” (Al-Baqarah: 271)

Doa Agar Diberi Keikhlasan

Menjaga niat bukan perkara mudah, karena hati mudah berbolak-balik. Karena itu, seorang mukmin dianjurkan banyak berdoa agar diberi keikhlasan dan keteguhan niat.

Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk memohon keteguhan hati, karena hati berada dalam genggaman Allah ﷻ.

Penutup

Menjaga niat dalam beramal adalah pondasi diterimanya seluruh ibadah dan amal kebaikan. Dengan niat yang ikhlas, amal kecil menjadi besar, dan dengan niat yang rusak, amal besar bisa menjadi sia-sia. Semoga Allah ﷻ menolong kita untuk selalu meluruskan niat, memurnikan amal, dan menjadikan setiap perbuatan kita bernilai ibadah di sisi-Nya.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan