Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Semakin Bertambahnya Usia?

Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Semakin Bertambahnya Usia?

Sahabat MAQI Peduli.. Perlu kita ketahui bahwasanya manusia ketika hidup ke alam dunia ini, akan mengalami beberapa fase yaitu yang pertama fase Aulad (15 Th), yang kedua Fase Syabab (40 Th), yang ketiga Fase Kuhul (60 Th), dan yang terakhir Fase Syuyukh (Sampai Ajal). Firman Allah Swt dalam Qs. Fathir ayat ke 37 :

اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa (yang cukup) untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?

Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan kepada manusia agar memikirkan apa yang harus mereka lakukan ketika umur mereka semakin bertambah, untuk menjawab hal tersebut maka perlu kita tinjau dari hadis-hadis Rosulullah SAW sebagai berikut :

  1. Peringatan Umur 40-60 Tahun

وَاَمَّا الأَحَادِيْثُ فَالأَوَّلُ : عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ، عَنْ النَّبِيِّ ص. قَالَ:  أعْذَرَ اللّٰهُ إلَى امْرِىءٍ أَخَّرَ أجلَه حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً . رواه البخارى

Pertama: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: “Allah tetap menerima uzur -alasan- seorang yang diakhirkan ajalnya, sehingga ia berumur enam puluh tahun.” (Riwayat Bukhari.

 Para ulama berkata bahwa maknanya itu ialah Allah tidak akan membiarkan -tidak menerima- uzur seorang yang sudah berumur enampuluh tahun itu, sebab telah dilambatkan oleh Allah sampai masa yang setua itu. Dikatakan: Azarar rajulu: apabila ia sangat banyak mengemukakan keuzurannya.

  1. Kemuliaan Seseorang diukur dengan Ilmunya bukan Umurnya

الثَانِي : عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ : كَانَ عُمَرَ ر.ع يُدْخِلُنِى مَعَ أَشْيَاخٍ بَدْرٍ، فَكَأَنَّ بَعْضُهُمْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ فَقَالَ : لِمَ يَدْخُلُ هَذَا مَعْنَا وَ لَنَا أَبْنَاءُ مِثْلُهُ، ؟ فَقَالَ عُمَرُ : إِنَّهُ مِنْ حَيْثُ عَلِمْتُمْ، فَدَعَانى ذَاتَ يَوْمٍ فَأدْخُلَنى مَعَهُمْ، فَمَا رَأَيْتُ أَنَّهُ دَعَانِى يَوْمَئِذٍ إِلَّا لِيُرِيْهُمْ قَالَ : مَا تَقُوْلُوْنَ فِى قَوْلِ اللّٰهِ تَعَالى : إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ . (النصر : ١) فَقَالَ بَعْضُهُمْ : أَمِرْنَا نَحْمَدُ اللّٰهَ وَ نَسْتَغْفِرُهُ إِذَا نَصَرْنَا وَفَتَحَ عَلَيْنَا. وَسَكَتَ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ لِى : أَكَذَلِكَ تَقُوْلُ يَا اِبْنَ عَبَّاسٍ؟ فَقُلْتُ : لَا . قَالَ فِمَا تَقُوْلُ؟ قُلْتُ هُوَ أَجْلُ رَسُوْلِ اللّٰهِ ص. أَعْلَمَهُ لَهُ قَالَ : إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالفَتْحُ. وَذٰلِكَ عَلَامَةُ  أَجْلِهِ : فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ، إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (النصر : ٣) فَقَالَ عُمَرُ ر.ع. : مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَقُوْلُ. رواه البخارى.

Kedua: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Umar radhiyallahu anhu memasukkan diriku [11] dalam barisan sahabat-sahabat tua yang pernah mengikuti perang Badar. Maka sebagian orang-orang tua itu seolah-olah ada yang merasakan tidak enak dalam jiwanya, lalu berkata: “Mengapa orang ini masuk beserta kita, sedangkan kita mempunyai anak-anak yang sebaya umurnya dengan dia?” Umar kemudian menjawab: “Sebenarnya dia itu sebagaimana yang engkau semua ketahui.” – maksudnya bahwa Ibnu Abbas itu diasuh dalam rumah kenabian dan ia adalah sumber ilmu pengetahuan dan berbagai pendapat yang tepat-. Selanjutnya pada suatu hari Umar memanggil saya, lalu memasukkan saya bersama-sama dengan para orang tua di atas. Saya tidak mengerti bahwa Umar memanggil saya pada hari itu, melainkan hanya untuk memperlihatkan keadaan saya kepada mereka itu. Umar itu berkata: “Bagaimanakah pendapat saudara-saudara mengenai firman Allah -yang artinya: “Jikalau telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” Maka sebagian para sahabat tua-tua itu berkata: “Maksudnya ialah kita diperintah supaya memuji kepada Allah serta memohonkan pengampunan daripadaNya jikalau kita diberi pertolongan serta kemenangan.” Sebagian mereka yang lain diam saja dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Umar lalu berkata kepadaku: “Adakah demikian itu pula pendapatmu, hai Ibnu Abbas?” Saya lalu menjawab: “Tidak.” Umar bertanya lagi: “Jadi bagaimanakah pendapatmu?” Saya menjawab: “Itu adalah menunjukkan tentang ajal Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, Allah telah memberitahukan pada beliau tentang dekat tibanya ajal itu. Jadi Allah berfirman -yang artinya: “Jikalau telah datang pertolongan dari Allah serta kemenangan,” maka yang sedemikian itu adalah sebagai tanda datangnya ajalmu. Oleh sebab itu maka memaha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan padaNya, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima taubat.” Umar radhiyallahu anhu lalu berkata: “Memang, saya sendiri tidak mempunyai pendapat selain daripada seperti apa yang telah engkau ucapkan itu.” (Riwayat Bukhari).

  1. Memperbanyak Dzikir dan Do’a dimasa Tua (Saatnya Membenahi diri)

الثَالِثُ : عَنْ عَائشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ : مَا صَلَّى رسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰهُ عليه و سَلَّمَ صَلَاةً بَعْدَ أَنْ نَزَلَتْ عَلَيْهِ. إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ. إِلَّا يَقُوْلُ فِيْهَا  سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى. متفق عليه

Ketiga: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Tidaklah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bershalat sesuatu shalat setelah turunnya ayat: Idzaja anashrullahi walfathu -Apabila telah tiba pertolongan dari Allah dan kemenangan, melainkan dalam shalatnya itu selalu mengucapkan: Subhanaka rabbana wa bihamdik, Allahummaghfirli -Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu. Ya Allah berilah pengampunan padaku.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat yang tertera dalam kedua kitab shahih -yakni Bukhari dan Muslim, disebutkan dari Aisyah pula demikian: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu memperbanyakkan ucapannya dalam ruku’ dan sujudnya yaitu: Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika, Allahummaghfirli -Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu. Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku,” beliau mengamalkan benar-benar apa-apa yang menjadi isi al-Quran. Makna: Yata-awwalul Quran ialah mengamalkan apa-apa yang diperintahkan pada beliau itu yang tersebut dalam al-Quran, yakni dalam firman Allah Ta’ala: Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu, artinya: Maka maha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada TuhanMu dan mohonlah pengampunan kepadaNya.

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu memperbanyak ucapannya sebelum wafatnya, yaitu: Subhanaka wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik -Maha Suci Engkau dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu, saya mohon pengampunan serta bertaubat kepadaMu. Aisyah berkata: Saya berkata: “Hai Rasulullah, apakah artinya kalimat-kalimat yang saya lihat Tuan baru mengucapkannya itu?” Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Itu dijadikan sebagai alamat -tanda- bagiku untuk umatku, jikalau saya telah melihat alamat -tanda- tersebut. Itu saya ucapkan apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan.” Beliau membaca surat an- Nashr itu sampai selesai.

  1. Masa Tua Disibukan dengan Ibadah (Menghilangkan hawa nafsu dan mengendalikan diri)

الرابع : عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّ اللّٰهَ  عَز َّ وَ جَلَّ تَابِعَ الوَحْيَ على رسول اللّه صَلّى الله عليه و سلم، قَبْلَ وَفَاتِهِ، حَتَّى تُوُفِّى أَكْثَرَ مَا كانَ الوَحْيُ. متفق عليه

Keempat: Dari Anas radhiyallahu anhu, katanya: “Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla senantiasa mengikutkan terus -sambung menyambung- dalam menurunkan wahyu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sebelum wafatnya sehingga beliau itu wafat, di situlah sebagian besar wahyu diturunkan.” (Muttafaq ‘alaih).

  1. Anjuran Husnul Khatimah (Sibuk beribadah dimasa tua)

الخامس : عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله ص. : يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ على مَا مَاتَ عَلَيْهِ، رواه مسلم

Kelima: Dari Jabir radhiyallahu anhu, katanya: “Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Dibangkitkan setiap hamba itu -dari kuburnya, menurut -susuai keadaan- apa yang ia mati atasnya.” (Riwayat Muslim).

  • Umur 40 Tahun Merupakan Masa Penentuan Baik-Buruknya

Dan diriwayatkan: sesugguhnya seorang hamba apabila mencapai umur 40 tahun kemudian ia tidak taubat, setan akan mengusap wajahnya dan berkata: inilah wajah yang tidak akan beruntung selamanya.

‘Bila seseorang sudah mencapai usia empat puluh tahun, lalu kebaikannya tidak mengatasi kejelekannya, setan mencium di antara kedua matanya dan berkata, ‘inilah manusia yang tidak beruntung’. ” (Dalam redaksi lain), ”Barang siapa umurnya sudah melebihi empat puluh tahun sedang kebaikannya tidak lebih banyak dari kejelekannya, hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka.”

  • Usia Umat Rasulullah Saw antara 60 Tahunan

“Usia umatku (umat Islam) antara 60 hingga 70 tahun. Dan sedikit dari mereka yang melewatinya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Shahihul Jaami’ no. 1073).

Penulis : Ustadz Syahidan Mukri (Bendahara Yayasan MAQI Peduli Indonesia)

Contoh Kepada Anak Lebih Penting Dari Sekedar Perintah

Contoh Kepada Anak Lebih Penting Dari Sekedar Perintah

Mendidik anak memang bukanlah hal yang mudah. Perlu ilmu, kesabaran, dan juga doa yang kuat selama prosesnya. Tapi masih banyak dari sebagian orang tua, hanya sekedar memberi tahu atau perintah mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Akan tetapi, mereka lalai untuk menjadi contoh atau teladan bagi anak-nya. Padahal, contoh perbuatan baik lebih penting daripada sekedar perintah.

Dalam kitab Fiqh Tarbiyatu al-Abna` karya Syekh Musthofa ‘Adawy, sebuah kitab yang berisi panduan parenting berdasarkan Alquran dan Hadis. Di dalamnya disebutkan tentang bagaimana perilaku orang tua di hadapan anak-anak lebih berpengaruh daripada sekedar ucapan atau perintah.

Syekh Musthofa ‘Adawy mengatakan, bagaimana bisa orang tua memerintahkan sesuatu hal yang baik kepada anak sedangkan mereka tidak melakukan hal baik tersebut. Misal, orang tua seringkali melarang anak untuk berbohong dan memerintahkannya berkata jujur. Tapi justru orang tua melakukan kebohongan dengan alasan demi kebaikan anak-anaknya. Orang tua meminta anaknya untuk sholat ke masjid sedangkan orang tua sering lalai terhadap sholatnya dengan alasan kesibukan dunianya.

Dalam surat Luqman ayat 19, Luqman, salah satu hamba Allah yang shalih dan namanya diabadikan sebagai nama surat menasihati anaknya. Ia berpesan untuk melunakkan suaranya,

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ

Artinya: Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Bagaimana bisa mengajarkan suatu kebaika pada anak-anak sedangkan  ia sebagai orang tua tidak melakukan kebaikan tersebut ?

Allah juga berfirman tentang bagaimana perbuatan lebih berpengaruh daripada sekedar kata-kata, dalam Al-quran surat as-Shaff ayat 2 dan 3,

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

Artinya: (2) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

 

Ancaman kepada orang yang tidak melaksanakan apa yang ia perintahkan dan melakukan apa yang justru dilarangnya telah diterangkan dalam sebuah hadis. Hadis yang menceritakan gambaran seseorang yang saat di dunia senang memerintahkan kebaikan tapi ia sendiri tidak melakukannya, dan melakukan apa yang ia sendiri larang untuk dilakukan. Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Usamah bin Zaid,

حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قِيلَ لَهُ أَلَا تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ لِأَحَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

Artinya: telah menceritakan kepada kami [Al A’masy] dari [Syaqiq] dari [Usamah bin Zaid] berkata: Dikatakan padanya: Bertamulah ke Utsman lalu berbicaralah padanya. Ia berkata: Apa kalian melihatku bahwa aku tidaklah berbicara kepadanya kecuali yang telah saya sampaikan kepada kalian, aku pernah berbicara berdua dengannya tentang sesuatu dimana saya tidak suka untuk memulainya, dan aku tidak berkata kepada siapa pun bahwa aku memiliki pemimpin, ia adalah orang terbaik setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar dineraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk neraka bertanya: ‘Hai fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu kau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? ‘ Ia menjawab: ‘Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya’.”  (HR. Muslim)

 

Itulah beberapa peringatan yang berasal dari Alquran dan hadis tentang larangan memerintahkan sesuatu kepada orang lain, dan melakukan sesuatu yang ia sendiri melarangnya. Pengajaran terbaik ada pada contoh dan sikap. Maka jadilah contoh yang baik sebagai orang tua baik sebagai guru atau pendidik.

Penulis : Muhammad Faris Rofiq (Tim Yayasan MAQI Peduli Indonesia)

 

Keutamaan dan Keajaiban Sedekah

Keutamaan dan Keajaiban Sedekah

Sahabat MAQI Peduli, ada begitu banyak ragam ibadah yang bisa kita laksanakan dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Selain ibadah qalbiyah (hati) dan ibadah badaniyah (fisik), kita juga bisa beribadah dengan harta yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada kita. Ibadah ini disebut dengan ibadah maliyah (harta). Ada beberapa jenis ibadah maliyah seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah dan lain-lain.

Akan tetapi pada tulisan ini, pembahasan akan kita fokuskan pada sedekah, terkait dengan definisi, hukum syar’i maupun keutamaannya. Semoga kita bisa mengambil ibrah dan mengamalkannya secara rutin dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Definisi Sedekah

Sahabat MAQI Peduli, Sedekah atau Shadaqah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta, namun mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam kegiatan bersedekah, ada upaya untuk mencari ridho Allah Subhanahu wata’ala, menghadirkan pahala serta kebaikan bagi pelaksananya.

 

Hukum Sedekah dalam Islam

Hukum sedekah dalam Islam adalah sunah, apabila dikerjakan akan mendatangkan pahala dan kebaikan dan tidak mendatangkan dosa apabila ditinggalkan, akan tetapi tidak mendapatkan pahala keutamaan dari sedekah.

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم-: «كل سُلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس: تَعْدِلُ بين اثنين صدقةٌ، وتُعِينُ الرجلَ في دابتِه فتَحملُهُ عليها أو تَرفعُ له عليها متاعَهُ صَدَقَةٌ، والكلمةُ الطيبةُ صدقةٌ، وبكل خُطْوَةٍ تمشيها إلى الصلاة صدقةٌ، وتُميط الأذَى عن الطريق صدقةٌ».  [صحيح] – [متفق عليه]

 

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Setiap persendian/ruas tulang manusia ada sedekahnya (yang wajib dikeluarkan) setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang dalam kendaraannya lalu menaikkannya ke atas kendaraan dan mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, serta perkataan yang baik pun adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah dan menyingkirkan rintangan/gangguan dari jalan adalah sedekah.”  (Hadis sahih – Muttafaq ‘alaih)

 

Keutamaan dan Keajaiban Sedekah

Berikut ini beberapa keutamaan dan keajaiban bersedekah yang dapat membuat Sahabat MAQI Peduli bahagia:

  1. Pasti Diganti dan Di Balas Oleh Allah

Ketika kita bersedekah pasti akan diganti dan dibalas oleh Allah Swt. Allah akan mengganti sedekah itu segera di dunia. Dan Allah akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat kelak. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba’: 39).

  1. Tidak mengurangi harta

Rasulullah berjanji bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta dan Rasulullah tidak pernah ingkar janji. “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim No. 2588).

  1. Menjadi Naungan di akhirat

Sedekah akan menjadi naungan pada yaumul mahsyar kelak. Di saat semua orang kepanasan karena demikian dekatnya matahari hingga banyak yang tenggelam dengan keringatnya sendiri, orang yang bersedekah akan mendapat naungan dari sedekahnya. Apalagi jika sedekahnya secara sembunyi-sembunyi. “Sesungguhnya naungan seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya” (HR. Ahmad No. 18043. Hadis sahih).

  1. Sedekah Melipatgandakan Pahala

Perbanyaklah bersedekah sebagai amalan hari Jumat. Karena keajaiban sedekah di hari Jum’at adalah Allah akan melipat gandakan pahala sedekah. Nabi bersabda: “Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan”. (Imam al-Syafi’i, al-Umm, juz 1, hal. 239).

Dari ragam manfaat sedekah tadi, sudah seharusnya kita bisa untuk melaksanakan sedekah. Untuk itu apabila Sahabat ingin menunaikan sedekah dapat melalui MAQI Peduli, Insya Allah dana yang di salurkan dapat di kelola dengan baik dan tepat sasaran melalui program-program MAQI Peduli dalam menebarkan kebaikan untuk meraih keberkahan.

Yuk kita bersedekah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat

(Ketua Dewan Syari’ah MAQI Peduli)

 

Hubungi Kami
Scan the code
Admin MAQI Peduli
Assalamu'alaikum
Adakah yang bisa kami bantu?