Asma binti Abi Bakar رضي الله عنها

Dzatun Nithaqain dan Keberanian Saat Hijrah

Sejarah agung Islam tidak hanya mencatat keteladanan kaum laki-laki, tetapi juga mengukir keberanian luar biasa dari para pemudi muslimah. Salah satu sosok pemudi yang sangat berani dan cerdas adalah Asma binti Abi Bakar رضي الله عنها. Beliau merupakan putri dari sahabat karib Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Sejak usia muda, beliau telah menunjukkan dedikasi dan pengorbanan tanpa batas demi membela perjuangan Rasulullah ﷺ.

Keberanian Menembus Bahaya Misi Hijrah

Ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه bersembunyi di Gua Tsur saat hijrah ke Madinah, situasi di Mekkah sangat mencekam. Kaum musyrikin Quraisy mengepung setiap sudut kota dan menjanjikan imbalan besar bagi yang menemukan mereka. Namun, Asma binti Abi Bakar رضي الله عنها yang saat itu masih muda tidak merasa gentar sedikit pun.

Selanjutnya, beliau secara berani mengantarkan perbekalan makanan dan minuman ke Gua Tsur pada malam hari secara diam-diam. Tugas berbahaya ini beliau jalankan dengan penuh kecerdikan demi memastikan keselamatan Nabi ﷺ dan ayahnya. Keberanian beliau selaras dengan ajaran Al-Qur’an untuk saling menolong dalam kebaikan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Al-Ma’idah: 2).

Oleh karena keimanan yang kuat kepada Allah ﷻ, beliau mampu menundukkan rasa takut di tengah intaian musuh yang sangat kejam.

Julukan Mulia Dzatun Nithaqain Dari Rasulullah ﷺ

Saat hendak mengikat perbekalan di Gua Tsur, Asma binti Abi Bakar رضي الله عنها tidak menemukan tali untuk mengikat gantungan makanan. Tanpa ragu, beliau merobek sabuk ikatan pinggangnya menjadi dua bagian demi mengikat wadah makanan dan tempat air tersebut. Momen inilah yang menjadi sebab beliau mendapatkan julukan mulia Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Sabuk).

Asma binti Abi Bakar رضي الله عنها meriwayatkan sendiri peristiwa bersejarah ini dalam sebuah hadits shahih:

صَنَعْتُ سُفْرَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ حِينَ أَرَادَ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، قَالَتْ: فَلَمْ نَجِدْ لِسُفْرَتِهِ وَلاَ لِسِقَائِهِ مَا نَرْبُطُهُمَا بِهِ، فَقُلْتُ لأَبِي بَكْرٍ: وَاللَّهِ مَا أَجِدُ شَيْئًا أَرْبُطُ بِهِ إِلاَّ نِطَاقِي، قَالَ: فَشُقِّيهِ بِاثْنَيْنِ، فَارْبُطِيهِ: بِوَاحِدٍ السِّقَاءَ وَبِالآخَرِ السُّفْرَةَ، فَفَعَلْتُ، فَلِذَلِكَ سُمِّيَتْ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ

Aku menyiapkan perbekalan Rasulullah ﷺ di rumah Abu Bakar ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah. Asma berkata: Kami tidak menemukan tali untuk mengikat perbekalan dan tempat air beliau. Maka aku berkata kepada Abu Bakar: Demi Allah, aku tidak mendapati sesuatu untuk mengikatnya kecuali sabuk pinggangku. Abu Bakar berkata: Pembelah sabuk itu menjadi dua, lalu ikatlah tempat air dengan salah satunya dan perbekalan dengan yang lainnya. Maka aku pun melakukannya, karena itulah aku dinamai Dzatun Nithaqain (HR. Bukhari).

Dengan demikian, pengorbanan dan ketangkasan pemudi ini diabadikan sebagai keutamaan yang sangat tinggi dalam sejarah perjalanan Islam.

Teladan Keteguhan Jiwa bagi Pemudi Muslimah

Pada akhirnya, riwayat hidup Asma binti Abi Bakar رضي الله عنها memberikan inspirasi yang sangat berharga bagi kaum muslimah masa kini. Beliau membuktikan bahwa pemudi memiliki peran yang sangat strategis dalam perjuangan dan syiar agama Islam. Keberanian, keteguhan prinsip, dan kecerdasan merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda.

Kemudian, sosok beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa siap berkorban demi membela kebenaran di tengah tantangan zaman. Pemudi muslimah saat ini dapat meneladani beliau dengan menjadi pribadi yang mandiri, berilmu, dan tangguh dalam menjaga kehormatan diri. Semoga para generasi muda mampu meneladani semangat perjuangan yang terpancar dari diri beliau.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Tinggalkan Balasan